Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Watubangga Baruga Kota Kendari, Sabdi Rasyid, meminta maaf setelah 57 pelajar MTs Al-Aksar mengalami keluhan kesehatan usai menyantap makan bergizi gratis. Ia mengakui ada kelalaian penanganan bahan baku ikan tuna setelah diterima dari pemasok. SPPG bersama Badan Gizi Nasional menanggung seluruh biaya perawatan pelajar terdampak.
KENDARI — Sabdi Rasyid menyampaikan permintaan maaf kepada siswa, orang tua, dan pihak Pondok Pesantren Al-Aksar. Ia menegaskan insiden yang menimpa 57 pelajar itu bukan persoalan ringan karena menyangkut kesehatan dan keselamatan penerima manfaat program MBG.
"Saya selaku Kepala SPPG Watubangga menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya khususnya kepada siswa MTs Al-Aksar, orang tua siswa, pimpinan pondok, serta pihak yang merasa khawatir dengan persoalan ini," kata Sabdi di Kendari.
SPPG Watubangga menyiapkan menu nasi putih, tuna balado, tumis kol dan wortel, orek tahu, serta buah kelengkeng. Bahan pangan diterima sehari sebelum pengolahan, termasuk ikan tuna sebanyak 256 kilogram.
Ikan tuna awalnya disimpan dalam gabus berisi es batu. Bahan kemudian ditimbang dan mulai dipotong sekitar pukul 16.30 WITA sesuai arahan pengawas gizi. Proses pemotongan selesai sekitar pukul 21.30 WITA, lalu ikan dimarinasi, dibungkus plastik, dan dimasukkan ke freezer.
Pengolahan dibagi menjadi empat kelompok produksi. Kelompok pertama mulai dimasak pukul 02.57 WITA dan selesai pukul 04.19 WITA. Adapun makanan untuk pelajar MTs dan Madrasah Aliyah Ponpes Al-Aksar masuk kelompok ketiga dan keempat yang dimasak siang hari. Total porsi yang disiapkan hari itu sebanyak 1.040 porsi.
Sabdi menyebut penanganan bahan pangan semestinya mengikuti prosedur Badan Gizi Nasional. Prosedur itu mencakup menjaga rantai dingin serta menerapkan prinsip bahan yang pertama masuk digunakan lebih dahulu atau first in, first out.
Evaluasi internal SPPG menemukan penyimpangan pada tahap penerimaan bahan baku ikan. "Dari analisa kami dalam proses itu ada kelalaian pada saat penerimaan bahan baku itu, di mana dari gabus kami pindah ke wadah cuma dibaluri es batu saja," ungkapnya.
Ia juga mengakui pengawasan terhadap penerapan standar operasional prosedur belum berjalan semestinya. Tahap persiapan dan penerimaan bahan baku ikan sebelum diolah menjadi titik yang paling lemah.
Hasil evaluasi internal SPPG belum memastikan penyebab medis keluhan kesehatan yang dialami 57 pelajar. Temuan soal penanganan ikan tuna baru sebatas analisis internal atas alur bahan baku, bukan kesimpulan medis.
SPPG Watubangga bersama Badan Gizi Nasional menyatakan bertanggung jawab atas biaya perawatan seluruh pelajar terdampak. Permintaan maaf resmi telah disampaikan ke pihak pondok pesantren dan orang tua siswa.