SULAWESI TENGGARA — Karier Yirenkyi melesat dalam beberapa bulan terakhir. Sejak menembus tim utama FC Nordsjælland pada Februari 2025, ia langsung menjadi andalan dan mencatatkan 205 kali memenangkan penguasaan bola, terbanyak di Liga Super Denmark musim lalu. Ia juga dinobatkan sebagai pemain muda terbaik kompetisi tersebut.
Koneksi Essien dan Lampard di Balik Transfer ke Coventry
Ketertarikan Coventry bukan tanpa riset. Frank Lampard, manajer Coventry, berdiskusi panjang dengan Michael Essien, mantan rekan setimnya di Chelsea yang kini menjadi staf pelatih Nordsjælland. Essien, yang menjadi idola Yirenkyi sejak kecil, melihat kemiripan gaya main antara keduanya.
"Kadang saya melihat kilasan yang mengingatkan saya pada diri saya sendiri saat kecil," ujar Essien. Lampard sendiri menilai Yirenkyi memiliki kualitas ala N'Golo Kanté, terutama dalam hal merebut bola dan energi tanpa henti di lini tengah.
Dari Bengkel Robot ke Lapangan Hijau
Kisah Yirenkyi tak lepas dari akademi Right to Dream (RTD) di Ghana. Bergabung sejak usia sembilan tahun di Kumasi, ia awalnya tidak terlihat sebagai calon bintang. Direktur Sepak Bola Nordsjælland, Alexander Riget, yang pertama kali melihatnya di Ghana, bahkan mengaku tak menyangka ia akan menjadi pesepak bola profesional.
Di sela-sela latihan, Yirenkyi muda menghabiskan waktu mempelajari robotika. Ia memenangkan penghargaan nasional di bidang itu saat berusia 13 tahun dan hanya gagal tampil di kejuaraan dunia karena pandemi Covid-19. Ketika ditanya apa yang akan ia lakukan jika bukan pesepak bola, jawabannya singkat: "Saya akan merakit robot."
Menjinakkan Kekuatan, Menghindari Kartu Merah
Tantangan terbesar Yirenkyi adalah mengendalikan agresivitasnya. Saat memperkuat tim U-19 Nordsjælland, ia kerap menerima kartu kuning. Bahkan dalam sebuah sesi latihan tim utama di Belanda dua tahun lalu, ia ditarik keluar karena kekuatan tekelnya dianggap berisiko melukai rekan setim menjelang musim baru.
Kini, ia datang ke Coventry dengan status pemain serba bisa. Selain sebagai gelandang tengah, ia pernah dimainkan sebagai bek kanan untuk tim nasional Ghana dan menutup kariernya di Nordsjælland sebagai bek tengah kiri. Fleksibilitas ini menjadi nilai jual utamanya.
Debut di Emirates dan Warisan Right to Dream
Laga melawan Arsenal di Emirates Stadium akan menjadi ujian sesungguhnya. Yirenkyi menjadi bukti lain keberhasilan akademi RTD yang juga melahirkan Mohammed Kudus dan Simon Adingra. Namun, tidak seperti para pendahulunya yang singgah di klub perantara, Yirenkyi melompat langsung dari Liga Super Denmark ke Premier League.
"Kami sangat antusias melihat pemain langsung berpindah dari Superliga ke liga terbesar," kata Riget. "Sebagian besar pemain akademi kami butuh langkah perantara, tapi ini berbeda."