Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyebar sembilan unit mobil tangki air langsung ke tujuh kabupaten/kota yang masuk kategori risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini diambil untuk memangkas waktu respons darurat, mengingat puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September hingga Oktober 2026.
KENDARI — Tujuh wilayah di Sulawesi Tenggara yang masuk kategori rawan karhutla tidak perlu menunggu bantuan air dari ibu kota provinsi. Gubernur Sultra Andi Sumangerukka memastikan armada pemadam telah ditempatkan langsung di titik-titik paling berisiko, bukan dipusatkan di Kendari.
Kebijakan ini diambil agar mobil tangki bisa langsung dioperasikan begitu titik api muncul. Jika sarana disimpan jauh dari lokasi kejadian, waktu tempuh justru akan memperlambat penanganan darurat di lapangan.
Daftar 7 Daerah Prioritas Penanganan Karhutla
Berdasarkan pemetaan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi Sultra 2022-2026, ada tujuh daerah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla dan kekeringan. Wilayah tersebut meliputi:
- Kabupaten Kolaka
- Kabupaten Konawe
- Kabupaten Konawe Selatan
- Kabupaten Bombana
- Kabupaten Buton Tengah
- Kota Baubau
- Kota Kendari
Sementara itu, sepuluh kabupaten/kota lainnya di Sultra berada pada tingkat risiko sedang. Meski begitu, seluruh wilayah tetap diminta waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering.
Puncak Kemarau Diprediksi September-Oktober 2026
Ancaman kekeringan tahun ini disebut lebih serius dari biasanya. Berdasarkan laporan resmi Stasiun Klimatologi BMKG Sultra, puncak musim kemarau diproyeksikan berlangsung pada September hingga Oktober 2026 dengan durasi kekeringan mencapai 21 dasarian atau sekitar tujuh bulan.
"Berdasarkan laporan resmi Stasiun Klimatologi BMKG Sultra dan pemetaan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi Sultra 2022-2026, seluruh kabupaten dan kota di wilayah Sultra secara umum berada pada potensi kerawanan tinggi terhadap bencana kekeringan," ujar Andi Sumangerukka saat ditemui di Kendari, Rabu.
Alasan Armada Tidak Dipusatkan di Kendari
Penempatan mobil tangki di daerah rawan merupakan bagian dari strategi percepatan penanganan. Gubernur menegaskan bahwa menyimpan armada di ibu kota provinsi justru berisiko memperlambat evakuasi dan pemadaman saat keadaan darurat.
"Jika sarana pendukung disimpan di Kendari, akan membutuhkan waktu saat penanganan emergency. Oleh karena itu, kita tempatkan langsung di daerah rawan agar begitu terjadi karhutla dapat segera dioperasikan," katanya.
Posko Siaga dan Simulasi Teknis Disiapkan
Selain menyiagakan peralatan fisik, Pemprov Sultra menginstruksikan seluruh bupati dan wali kota bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk segera mengaktifkan Posko Siaga Bencana di masing-masing wilayah. Hal ini penting untuk memastikan koordinasi lintas instansi berjalan cepat sejak dini.
Pemprov juga menyelenggarakan simulasi teknis guna melatih kesiapan taktis personel dalam mengoperasikan sarana pemadam. Latihan ini sekaligus menyelaraskan alur regulasi darurat antar-instansi terkait, sehingga tidak ada tumpang tindih wewenang saat penanganan kebakaran berlangsung.