Developer Bitcoin memperingatkan risiko keamanan serius pada proposal fork eCash milik Paul Sztorc yang menggunakan mekanisme airdrop saldo UTXO. Proyek ini memicu kekhawatiran karena berpotensi menyebabkan kehilangan dana akibat ketiadaan fitur replay protection bagi pemegang aset kripto.
Paul Sztorc kembali memicu perdebatan panas di komunitas kripto melalui proposal fork eCash miliknya. Alih-alih dianggap sebagai inovasi penskalaan, para pengembang senior dan tokoh industri justru melabeli proyek ini sebagai "airdrop berbahaya" yang mengancam keamanan dana pengguna Bitcoin.
Kritik utama tertuju pada mekanisme distribusi eCash yang mengandalkan set unspent transaction outputs (UTXO) Bitcoin. Sergio Lerner, salah satu pendiri Rootstock Labs, menyatakan bahwa eCash sebenarnya bukan sekadar fork Bitcoin tradisional, melainkan blockchain baru yang mencoba mendistribusikan token kepada pemegang Bitcoin yang sudah ada.
Meskipun tidak mengambil aset langsung dari jaringan Bitcoin, proses klaim token ini dianggap sangat berisiko. Pengguna dipaksa berinteraksi dengan perangkat lunak baru yang belum teruji keandalannya demi mendapatkan token "gratis" tersebut.
Salah satu poin paling krusial yang disorot para ahli adalah absennya fitur replay protection. Tanpa perlindungan ini, transaksi yang dilakukan di satu jaringan bisa secara tidak sengaja "dimainkan ulang" di jaringan lainnya, menyebabkan kehilangan dana permanen.
Dan Held, seorang pengusaha Bitcoin, menilai langkah Paul Sztorc yang mengalokasikan kembali koin milik Satoshi Nakamoto di jaringan eCash hanyalah taktik pemasaran semata. "Realokasi koin Satoshi adalah pemasaran bernada kejutan, dan ketiadaan replay protection membuatnya sangat berbahaya untuk diklaim," tegas Held.
Distribusi eCash juga memicu masalah etika dan operasional, terutama bagi pengguna yang menyimpan aset di bursa (exchange) atau layanan kustodian. Karena kunci privat dipegang oleh platform, pemilik ekonomi sebenarnya dari Bitcoin tersebut kemungkinan besar tidak akan mendapatkan akses ke eCash.
Sergio Lerner menekankan bahwa kustodian sering kali bukan pemilik sah secara ekonomi atas kunci UTXO yang mereka kelola. Hal ini menempatkan pengguna ritel pada posisi yang dirugikan jika bursa tempat mereka menyimpan aset tidak mendukung fork tersebut secara resmi.
Selain itu, model pendanaan proyek ini mendapat kecaman karena mengalokasikan sebagian koin milik Satoshi di rantai baru untuk investor awal. Langkah ini dianggap merusak prinsip dasar Bitcoin mengenai kekekalan kepemilikan aset yang sudah tidak aktif selama bertahun-tahun.
Bagi komunitas kripto di Indonesia, munculnya fork seperti eCash menuntut kewaspadaan ekstra. Pengguna yang menyimpan Bitcoin di bursa lokal seperti Indodax, Pintu, atau Reku disarankan untuk tidak terburu-buru mencoba mengklaim token eCash jika tidak ada pengumuman resmi dari platform terkait.
Upaya klaim mandiri dengan memindahkan aset ke dompet pihak ketiga demi mengejar airdrop sangat tidak disarankan bagi pemula. Risiko kehilangan Bitcoin utama jauh lebih besar dibandingkan nilai spekulatif dari token fork yang belum tentu memiliki likuiditas di pasar.
Jay Polack, Head of Strategy di VerifiedX, mengingatkan bahwa mencoba mengubah properti inti Bitcoin melalui sistem derivatif adalah ide yang buruk. Menurutnya, jaminan kepemilikan asli Bitcoin tidak boleh diganggu gugat oleh eksperimen apa pun di sisi luar ekosistem.
Sejarah menunjukkan bahwa mayoritas fork Bitcoin gagal mendapatkan traksi pasar yang signifikan dalam jangka panjang. eCash mungkin akan menghadapi nasib serupa, namun reaksi keras dari para developer saat ini menjadi sinyal kuat bahwa keamanan dana pengguna tetap menjadi prioritas tertinggi di atas eksperimen teknis.