Pemilihan Rektor UHO 2026-2030 Dimulai, Figur Pemersatu dan Visioner Dinanti Civitas Akademika di Sulawesi Tenggara

Penulis: Reza Maulana  •  Selasa, 12 Mei 2026 | 11:47:01 WIB
Pendaftaran calon rektor UHO masa bakti 2026–2030 resmi dibuka.

KENDARI — Proses suksesi kepemimpinan di Universitas Halu Oleo (UHO) memasuki babak krusial. Pendaftaran calon rektor untuk masa bakti 2026–2030 telah dimulai, berbarengan dengan keberangkatan jamaah haji asal Kota Kendari menuju Embarkasi Makassar pada hari yang sama, Selasa (12/5/2026).

Dosen Fakultas Pertanian UHO yang juga Ketua APTISI Sultra, Andi Bahrun, menyebut momen ini bukanlah sekadar kebetulan. Ia berharap proses demokrasi di kampus berjalan lancar dan melahirkan pemimpin yang amanah.

"Kita berharap semoga jamaah haji asal Kota Kendari dan Sultra dapat mendoakan proses demokrasi di kampus UHO lancar, sukses dan terpilih Rektor yang amanah dan penuh dedikasi untuk daerah dan untuk merah putih," tulisnya dalam pernyataan yang diterima redaksi.

Beban Tugas di Tengah Dinamika Nasional dan Global

Pemilihan rektor kali ini tidak hanya dimaknai sebagai pergantian pimpinan rutin. Civitas akademika menuntut sosok yang mampu membaca perubahan zaman dan menghadirkan inovasi berdampak nyata bagi masyarakat.

Rektor baru nantinya dihadapkan pada target besar: mengimplementasikan visi nasional pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di lingkungan kampus. Fokusnya meliputi penguatan SDM unggul, hilirisasi riset, kemandirian pangan dan energi, serta transformasi digital.

Menurut Andi Bahrun, UHO tidak boleh lagi menjadi menara gading. Perguruan tinggi harus tampil sebagai pusat solusi dan motor penggerak pembangunan bangsa, khususnya di Sulawesi Tenggara.

Potensi Daerah sebagai Basis Riset dan Inovasi Kampus

UHO dituntut lebih responsif terhadap kebutuhan pembangunan daerah. Potensi besar Sulawesi Tenggara di sektor pertanian, perikanan, kelautan, pertambangan, hingga energi terbarukan harus menjadi fondasi pengembangan riset dan pengabdian masyarakat.

Kampus diharapkan hadir sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan riil pembangunan. Selain itu, tantangan global seperti perubahan iklim, disrupsi teknologi, dan kecerdasan buatan menuntut UHO bergerak lebih progresif.

Internasionalisasi kampus pun menjadi keharusan. Hal ini bisa ditempuh melalui kolaborasi global, peningkatan publikasi ilmiah bereputasi, dan mobilitas akademik internasional untuk memperkuat reputasi institusi di tingkat dunia.

Merawat Budaya Lokal di Tengah Arus Globalisasi

Di luar urusan sains dan teknologi, UHO juga diharapkan menjadi pusat pengembangan budaya. Kampus memiliki posisi strategis dalam menjaga dan memperkuat identitas lokal, kearifan lokal, bahasa, seni, serta tradisi masyarakat Sulawesi Tenggara.

"Budaya tidak boleh hanya dipahami sebagai warisan masa lalu, tetapi harus menjadi sumber inspirasi inovasi, penguatan karakter, serta pembangunan sosial yang berkelanjutan," tegas Andi Bahrun.

Kepemimpinan ke depan diharapkan mampu menghadirkan kampus yang unggul dalam sains dan teknologi, namun tetap kokoh dalam nilai budaya, kemanusiaan, dan kebangsaan. UHO diharapkan menjadi rumah besar kebudayaan yang dikenal hingga panggung global.

Menjaga Martabat Demokrasi Akademik

Di atas semua agenda besar tersebut, proses pemilihan rektor kali ini harus menjadi teladan demokrasi akademik yang sehat. Seluruh tahapan harus berjalan transparan, objektif, jujur, dan penuh integritas.

Kompetisi gagasan dan kapasitas harus lebih dikedepankan dibandingkan kepentingan kelompok. Pemilihan rektor hendaknya menjadi ruang adu visi, adu program, dan adu komitmen untuk kemajuan universitas, bukan ajang manuver yang berpotensi memecah harmoni internal kampus.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: kendarinews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top