SULAWESI TENGGARA — Kebijakan energi India untuk mengadopsi BBM E20 secara nasional menuai respons panas dari pengguna kendaraan di platform media sosial. Meskipun pemerintah mengklaim campuran etanol ini tidak berisiko terhadap mesin, banyak warganet yang meragukan pernyataan tersebut dan mempertanyakan kesiapan teknis kendaraan mereka.
Pemilik mobil dan motor keluaran lama menjadi pihak yang paling vokal dalam menyuarakan protes. Mereka khawatir komponen seperti selang bahan bakar, karburator, dan gasket tidak dirancang untuk menahan sifat korosif dari kadar etanol yang lebih tinggi.
“Kalau mobil baru mungkin aman, tapi bagaimana dengan motor keluaran 90-an yang masih dipakai sehari-hari?” tulis seorang warganet di forum diskusi otomotif India, menggambarkan keresahan yang meluas.
Pemerintah India bersikukuh bahwa BBM E20 telah diuji pada berbagai tipe mesin dan dinyatakan aman. Klaim ini merujuk pada standar emisi dan bahan bakar yang sudah diperbarui untuk kendaraan baru. Namun, tidak ada data spesifik yang dirilis mengenai dampak jangka panjang pada kendaraan yang diproduksi sebelum standar tersebut berlaku.
Netizen juga menyoroti inkonsistensi kebijakan. Di satu sisi, pemerintah mendorong penggunaan E20 untuk mengurangi impor minyak dan mendukung industri tebu lokal. Di sisi lain, mereka dianggap abai terhadap biaya perbaikan mesin yang mungkin harus ditanggung pemilik kendaraan lawas.
Dari sisi teknis, etanol memang dikenal memiliki sifat membersihkan yang kuat. Pada mesin tua yang sudah menumpuk endapan kotoran di tangki atau saluran bahan bakar, etanol bisa melarutkan kotoran tersebut dan menyumbat filter atau injektor secara mendadak. Ini menjadi momok bagi pemilik kendaraan yang tidak pernah menggunakan bahan bakar campuran sebelumnya.
Selain itu, etanol juga lebih higroskopis (mudah menyerap air) dibanding bensin murni. Dalam kondisi penyimpanan yang tidak ideal, air yang terperangkap dalam bahan bakar bisa memicu karat di dalam tangki dan sistem bahan bakar berbahan logam.
Kebijakan E20 ini merupakan bagian dari target ambisius India untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Namun, pelaksanaannya di lapangan membuktikan bahwa transisi energi tidak semudah membalikkan telapak tangan, terutama ketika menyangkut jutaan kendaraan lawas yang masih beroperasi.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah India mengenai program kompensasi atau insentif bagi pemilik kendaraan tua yang terdampak. Gelombang kritik di dunia maya pun terus berlanjut, menekan pemerintah untuk memberikan solusi yang lebih konkret.