KENDARI — Ribuan kilometer dari hiruk pikuk ibu kota, 206 anak-anak dari keluarga kurang mampu di Sulawesi Tenggara memulai babak baru kehidupan mereka di bangku sekolah berasrama penuh. Mereka adalah siswa baru Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Kendari yang telah tiba sejak 31 Juli untuk mengikuti serangkaian tahapan awal, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga registrasi ulang.
Kepala SRT 2 Kota Kendari, Ferdinand Nicholas Boonde, mengungkapkan bahwa pihak sekolah saat ini masih mematangkan persiapan jelang pembukaan resmi MPLS yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (4/8) mendatang. Berbagai agenda tengah disiapkan, termasuk perapian penampilan siswa dan pemantauan kesehatan lanjutan di puskesmas setempat bagi mereka yang memerlukan penanganan khusus.
Yang menarik dari rangkaian MPLS tahun ini adalah kolaborasi antara Kementerian Sosial dengan TNI. Sebanyak lima taruna dari program Taruna Bakti/Taruna Nusantara akan mendampingi para siswa selama empat hari, mulai 4 hingga 7 Agustus.
"Mulai 4 hingga 7 Agustus, ada lima taruna yang mendampingi siswa untuk pembentukan karakter, kedisiplinan, wawasan nusantara, hingga kepramukaan," ucap Ferdinand kepada wartawan di Kendari, Minggu.
Setelah pendampingan oleh taruna usai, agenda MPLS akan dilanjutkan dengan materi kesehatan, penguatan literasi dan numerasi, hingga pemetaan potensi siswa. Rangkaian kegiatan ini dijadwalkan berlangsung hingga 13 Agustus mendatang.
Di balik kemeriahan penyambutan, Ferdinand menyebut bahwa tantangan terbesar fase awal ini adalah proses adaptasi siswa, khususnya mereka yang duduk di jenjang SD dengan rentang usia 7–9 tahun. Anak-anak seusia itu umumnya belum terbiasa berpisah dari orang tua dalam waktu lama.
Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah menerapkan kebijakan yang humanis. Para orang tua murid diberikan akses kunjungan setiap hari pada sore hari, tanpa mengganggu agenda kegiatan yang telah disusun.
"Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah memberikan akses kunjungan bagi orang tua murid setiap hari pada sore hari tanpa mengganggu agenda kegiatan," ungkap Ferdinand.
Seluruh siswa yang telah hadir kini menempati asrama yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Setiap kamar berbentuk hall diisi oleh 16 hingga 20 siswa, dilengkapi ranjang tingkat serta perlengkapan personal yang disediakan secara gratis oleh negara.
Mulai dari pakaian, peralatan mandi, hingga perlengkapan tidur, semuanya ditanggung penuh. Ini menjadi angin segar bagi keluarga prasejahtera yang selama ini kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah anak.
Sementara itu, terkait kapasitas penerimaan, total kuota yang dialokasikan untuk tahun ajaran ini sebanyak 270 siswa. Pihak sekolah masih membuka penjangkauan khusus untuk jenjang SD guna memenuhi kuota yang tersedia. Data sementara mencatat ada susulan 20 siswa SD yang sudah terkonfirmasi positif.
"Nanti akan ditetapkan kembali melalui SK Wali Kota dan mereka dijadwalkan masuk setelah masa MPLS selesai," sebut Ferdinand. Para siswa susulan itu akan bergabung menyusul setelah rangkaian pengenalan lingkungan sekolah berakhir.