SULAWESI TENGGARA — Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan pihaknya belum bisa memastikan kapan penyesuaian dilakukan. Namun arah pergerakan harga sudah terlihat dari level minyak dunia saat ini.
"Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$70 per barel atau US$60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).
"Karena kalau kondisi ini terus bertahan, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar di angka Rp18-Rp20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," lanjutnya.
Pertamina sebelumnya telah menyesuaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi mulai 1 September 2026. Penyesuaian menyasar Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sementara harga Pertamax dan BBM subsidi tidak berubah.
VP Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menegaskan penetapan harga BBM nonsubsidi atau jenis BBM umum (JBU) mengacu pada formula dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Mekanisme itu yang membedakan JBU dari BBM subsidi yang harganya diatur langsung.
"Sementara untuk JBU, harga mengikuti formula yang telah ditetapkan Pemerintah," ujar Kitty dalam keterangan resmi, Sabtu (12/9/2026).
Harga tersebut dapat berbeda di sejumlah wilayah karena dipengaruhi biaya distribusi dan ketentuan penetapan harga yang berlaku di masing-masing daerah.
Lonjakan Brent ke US$108 per barel terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan 6,3% dalam satu hari perdagangan menunjukkan pasar merespons risiko geopolitik, bukan sekadar fluktuasi permintaan.
Bagi konsumen, skenario Rp18.000-Rp20.000 per liter untuk Pertamax berarti kenaikan hingga 25% dari harga saat ini di Jakarta. Pemilik kendaraan dengan spesifikasi mesin high-compression yang bergantung pada RON 92 ke atas akan merasakan langsung dampaknya, terutama karena tidak ada opsi subsidi untuk kategori BBM ini.
Bagi pelaku usaha, terutama sektor logistik dan transportasi darat, biaya operasional berpotensi naik signifikan. Dexlite dan Pertamina Dex yang sudah di atas Rp23.000 per liter menjadi komponen biaya yang sulit dihindari armada niaga.
Arah harga BBM nonsubsidi dalam beberapa pekan ke depan bergantung pada dua hal: apakah konflik Timur Tengah mereda, dan bagaimana pergerakan Brent terhadap level US$100 per barel. Eko menyebut pihaknya berharap harga minyak kembali ke level US$60-US$70 per barel seperti sebelum krisis, meski mengakui waktunya belum bisa diprediksi.
Investasi mengandung risiko.