SULAWESI TENGGARA — Penguatan IHSG pada Selasa (8/9) ditopang aliran masuk dana asing dan penggerakan saham-saham berkapitalisasi besar (big cap). Sentimen positif tambahan datang dari dibukanya kembali Bandara Soekarno-Hatta serta rilis data cadangan devisa Agustus yang tercatat naik.
Dua Katalis yang Menahan Laju Indeks Hari Ini
Phintraco Sekuritas menilai ada dua faktor utama yang bisa menghambat laju indeks menuju level psikologis 6.750. Pertama, aksi profit taking menyusul kenaikan signifikan di sesi sebelumnya. Kedua, risiko pelebaran defisit APBN 2026 akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia.
Dalam nota APBN 2026, pemerintah mematok asumsi harga minyak di level USD 70 per barel. Dengan harga Brent yang kini mendekati USD 100 per barel, tekanan terhadap fiskal dinilai semakin nyata.
Konflik Teluk dan Ancaman Inflasi Domestik
"Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, juga akan berpotensi mendorong tekanan inflasi di domestik," ujar Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya, Rabu (9/9).
Kenaikan harga energi berisiko membebani sektor transportasi, logistik, manufaktur, dan barang konsumsi. Sebaliknya, sektor energi—migas dan penunjangnya—serta komoditas terkait energi diperkirakan menjadi pilihan investor untuk berlindung dari gejolak harga minyak.
Saham Big Cap dan Data IKK Jadi Fokus Investor
Selain mencermati pergerakan harga minyak, pelaku pasar hari ini akan menantikan rilis data indeks keyakinan konsumen (IKK) Bank Indonesia untuk Agustus 2026. Konsensus memperkirakan IKK naik tipis ke level 117 dari 116,8 pada bulan sebelumnya.
Data tersebut menjadi indikator penting untuk mengukur daya beli masyarakat di tengah tekanan harga energi global. Jika hasilnya di atas ekspektasi, sentimen positif berpotensi memperkuat laju indeks pada sesi berikutnya.
Investasi mengandung risiko.