BRIN Analisis Gelombang Laut di Insiden KM Virgo Transport 8

Penulis: Toni Haryadi  •  Selasa, 15 September 2026 | 21:16:31 WIB
Peneliti BRIN menganalisis tinggi gelombang laut saat insiden KM Virgo Transport 8.

SULAWESI TENGGARA — Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, merilis hasil kajian kondisi gelombang laut saat insiden KM Virgo Transport 8. Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter dengan periode enam detik, masuk kategori sedang dalam klasifikasi keselamatan pelayaran.

Kapal tersebut hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9) pukul 02.00 Wita, saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal membawa 243 orang terdiri dari penumpang, awak kapal, dan kru.

Hingga Selasa (15/9), 114 orang telah ditemukan. Sebanyak 108 orang selamat, enam meninggal dunia, dan 129 orang masih dalam proses pencarian.

Gelombang Sedang, Bukan Ekstrem

Dalam keterangannya, Senin (14/9), Widodo menegaskan tinggi gelombang saat kejadian tidak masuk kategori ekstrem. "Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25-2,50 meter)," kata Widodo.

Kategori tinggi baru dimulai pada 2,50 meter, sedangkan kategori sangat tinggi pada 4 meter. Artinya, kondisi laut saat itu jauh dari ambang berbahaya yang biasa dikaitkan dengan kecelakaan pelayaran.

Karakteristik Gelombang dan Angin Permukaan

Sekitar 96 persen tinggi gelombang pada malam kejadian berasal dari gelombang yang dibangkitkan angin setempat, bukan swell yang merambat dari wilayah jauh. Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan 6,4-8,3 meter per detik atau 12-16 knot, berada pada kisaran Beaufort 4-5.

Arah gelombang saat kejadian berasal dari tenggara-timur atau sekitar 122 derajat. Secara geometris, gelombang mengenai kapal dari arah samping atau beam seas, kondisi yang dapat menyebabkan kapal mengalami gerakan oleng berulang.

Analisis Stabilitas: Kemiringan Jauh di Bawah Ambang

Analisis dinamika kapal memperkirakan periode gelombang berada pada kisaran 5,66-6,47 detik. Sementara periode alami oleng kapal dengan panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter berada pada rentang 11-18 detik. Perbedaan periode tersebut menunjukkan tidak terbentuk penguatan gerakan oleng akibat resonansi.

"Dengan parameter kajian yang tersedia, kemiringan kapal akibat gelombang diperkirakan sekitar 5,9 derajat pada kondisi umum dan 11,2-11,9 derajat pada pembebanan gelombang tertinggi," jelas Widodo.

Kontribusi angin terhadap kemiringan kapal diperkirakan kurang dari setengah derajat. Angka tersebut masih jauh di bawah ambang sekitar 25 derajat yang menjadi indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak, dan sangat jauh dari kisaran 50-60 derajat yang dikaitkan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali tegak.

Temuan untuk Operasi Pencarian

Kajian ini juga menghasilkan temuan yang dinilai dapat membantu operasi pencarian. Komponen hanyut Stokes yang dibangkitkan gelombang diperkirakan menyumbang rata-rata 41,2 persen dari arus permukaan total. Prakiraan hanyut yang tidak memperhitungkan komponen gelombang berpotensi menghasilkan estimasi lintasan yang berbeda.

Arus di lokasi kejadian berbalik arah mengikuti siklus pasang surut sekitar 24 jam. Kondisi tersebut perlu diperhitungkan ketika area pencarian diperbarui dari satu siklus ke siklus berikutnya.

Kedalaman Laut dan Opsi Survei Bangkai Kapal

Widodo menambahkan kedalaman laut di titik kejadian sekitar 27 meter. "Kondisi kedalaman tersebut memungkinkan survei bangkai kapal menggunakan multibeam echosounder, side-scan sonar, remotely operated vehicle (ROV), maupun penyelaman, sesuai prosedur dan kewenangan pihak yang melakukan pencarian serta penyelidikan," pungkasnya.

Analisis ini memberi gambaran bahwa faktor gelombang ekstrem bukan penyebab tunggal insiden. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap penyebab pasti tenggelamnya KM Virgo Transport 8, sementara operasi pencarian 129 orang yang masih hilang terus berlanjut dengan mempertimbangkan data arus dan hanyut terbaru.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top