Pencarian

BRIN Temukan Dapur Magma Anak Krakatau di Kedalaman 7,4–26,6 Km

Senin, 14 September 2026 • 16:02:02 WIB
BRIN Temukan Dapur Magma Anak Krakatau di Kedalaman 7,4–26,6 Km
Peneliti BRIN memaparkan hasil studi sistem magmatik Anak Krakatau dalam webinar, Senin (14/9/2026).

SULAWESI TENGGARA — Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan hasil sementara studi sistem magmatik Anak Krakatau dalam webinar bertajuk "Karakteristik Vulkanik Gunung Api Krakatau: Sistem Magmatik, Sejarah Evolusi, dan Pemantauan Tsunami Real-time", Senin (14/9/2026). Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dr Aditya Pratama, menyebut analisis mereka menunjukkan dapur magma gunung tersebut berada pada kedalaman 7,4 sampai 26,6 kilometer.

Angka itu bukan hasil pengamatan langsung, melainkan rekonstruksi dari jejak kimia yang tersimpan di mineral batuan. Pendekatan ini menempatkan sampel letusan sebagai arsip kondisi bawah permukaan yang sudah lama hilang.

Membaca Tekanan untuk Menaksir Kedalaman

Metode yang dipakai adalah geothermobarometry, teknik untuk mengetahui tekanan dan suhu saat mineral atau kristal terbentuk di bawah permukaan. Aditya menjelaskan timnya menganalisis komposisi kimia sejumlah mineral, lalu menerapkan model kesetimbangan yang dipublikasikan Keith D. Putirka dan rekan pada 2008.

"Jadi, kita analisis komposisi kimia dari beberapa mineral. Kemudian kita terapkan model kesetimbangan yang dipublikasikan atau dikenalkan oleh Putirka dan kawan-kawan di 2008," kata Aditya dalam pemaparannya.

Dari situ peneliti memperoleh nilai tekanan, yang kemudian dikonversikan menjadi kedalaman memakai persamaan hidrostatik dan referensi densitas batuan kerak.

"Sehingga ketika kita pakai data P-nya, kemudian kita convert dengan menggunakan persamaan hidrostatif, kita gunakan densitas kerak berdasarkan referensi, maka akan diperoleh kedalaman dapur magma," jelasnya.

Pada sampel Anak Krakatau, tekanan yang terukur jauh lebih tinggi dibandingkan sampel dari periode Krakatau sebelumnya. Aditya menyebut rentangnya sekitar 185 hingga 665 MPa. Dari tekanan itu, tim memperoleh estimasi kedalaman yang bervariasi antara 7,4 dan 26,6 kilometer.

Dua Kelompok Mineral, Dua Kedalaman Berbeda

Rentang panjang tersebut tidak berarti seluruh sistem magma berada di titik terdalam. Aditya membagi hasil analisis menjadi dua kelompok berdasarkan ukuran mineral. Mineral berukuran lebih halus mengindikasikan dapur magma yang lebih dangkal, sementara mineral lebih kasar menunjuk ke dapur magma yang lebih dalam.

"Nah, dari range yang panjang ini, kemudian kita sebenarnya bisa bagi menjadi dua kelompok," katanya.

Pemodelan itu mengarah pada kesimpulan bahwa Anak Krakatau memiliki lebih dari satu dapur magma. "Di Anak itu dari studi yang kita lakukan, paling tidak ada dua dapur magma, di kedalaman yang menengah dan kedalaman yang lebih dalam," jelas Aditya.

Temuan ini relatif sejalan dengan riset sebelumnya yang memakai metode seismik tomografi. Studi tersebut juga menemukan dua kelompok dapur magma, masing-masing di kedalaman sekitar 10 kilometer dan 22 kilometer.

Bukan Prediksi Letusan Besar

Selain geothermobarometry, tim menjalankan analisis petrografi untuk melihat tekstur dan mineralogi, analisis geokimia, kimia mineral dan gelas, serta analisis kemagnetan batuan. Menurut Aditya, pendekatan berlapis ini dipakai untuk mengonfirmasi hal-hal yang belum bisa dipastikan lewat geokimia maupun petrografi saja.

Ada dua pertanyaan utama yang ingin dijawab: bagaimana pola perubahan kondisi dapur magma dari waktu ke waktu, dan bagaimana karakteristik magmanya.

Penelitian ini juga memetakan posisi Anak Krakatau dalam siklus pembentukan kaldera. Berdasarkan karakteristik magma dan kondisi dapur magma yang dianalisis, gunung itu diperkirakan masih berada pada fase inkubasi.

"Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera-forming eruption," ujar Aditya.

Artinya, kedalaman dapur magma hingga 26,6 kilometer tidak bisa dibaca sebagai ramalan letusan besar dalam waktu dekat. Aditya menegaskan hasil ini masih bersifat awal karena risetnya terus berjalan dan baru sebagian sampel yang dianalisis.

"Ini preliminary research, karena memang sejauh ini risetnya masih tetap berjalan," ujarnya.

Kenapa Penting bagi Pemantauan Gunung Api

Pemetaan struktur dapur magma menjadi dasar untuk memahami bagaimana tekanan menumpuk sebelum muncul ke permukaan. Bagi wilayah sekitar Selat Sunda yang padat aktivitas, informasi ini relevan untuk memperkuat sistem peringatan dini, termasuk pemantauan tsunami real-time yang dibahas dalam forum yang sama.

Riset BRIN ini belum final. Sejumlah data geotermobarometri yang dianggap cukup valid baru sebagian, dan analisis sampel masih berlanjut untuk mempertajam gambaran sistem magma di bawah Anak Krakatau.

Follow inisultra.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks