SULAWESI TENGGARA — Keputusan itu diumumkan Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama sekitar dua setengah jam setelah gempa utama terjadi pada pukul 04.58 WIB. Status siaga dicabut setelah tim teknis memverifikasi data tide gauge dan sensor pantau di perairan terdampak.
"Peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB," kata Nelly dalam keterangan resmi yang dikutip dari Breaking News Metro TV, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Hasil Observasi Dua Jam: Permukaan Laut Normal
Nelly menjelaskan, periode observasi intensif dilakukan selama kurang lebih 120 menit pasca-gempa. Fokus pemantauan diarahkan pada fluktuasi permukaan air laut di wilayah yang masuk zona peringatan.
"Dengan memperhatikan kondisi terkini terkait hasil observasi tinggi muka laut di wilayah terdampak, tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan," ungkap Nelly.
Meski status telah dicabut, BMKG tetap mengimbau masyarakat agar tidak lengah. Potensi gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil masih bisa terjadi dan masyarakat diminta memastikan jalur evakuasi tetap steril.
Warga Sempat Mengungsi ke Dataran Tinggi
Guncangan magnitudo 7,7 yang berpusat di sekitar Mbay, Kabupaten Nagekeo, langsung memicu respons cepat warga pesisir. Begitu sirene peringatan berbunyi, sebagian warga bergerak mandiri menuju dataran tinggi sebelum instruksi resmi evakuasi dikeluarkan pemerintah daerah.
Kepanikan sempat terjadi di sejumlah titik mengingat kekuatan gempa yang tergolong besar untuk standar seismik regional. Namun, tidak ada laporan awal mengenai kerusakan bangunan masif atau korban jiwa yang masuk ke pusat kendali BMKG hingga status peringatan resmi dicabut.
Catatan Seismik: Mengapa Peringatan Dicabut Cepat?
Kebijakan pencabutan peringatan dini dalam waktu singkat ini sejalan dengan protokol internasional. Parameter utama yang menjadi acuan adalah tidak terdeteksinya perubahan elevasi air laut secara real-time di titik pantau terdekat dengan episentrum.
BMKG mencatat, meski magnitudo mencapai 7,7, mekanisme pemicu tsunami (tsunami generation) tidak menghasilkan perpindahan kolom air yang signifikan. Hal ini dimungkinkan terjadi jika jenis patahan yang bergerak adalah strike-slip atau sesar mendatar, yang secara teori lebih kecil berpotensi menimbulkan tsunami besar dibandingkan patahan naik.
Masyarakat di pesisir NTT kini diharapkan kembali beraktivitas normal, namun tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. Data terakhir dari BMKG menunjukkan aktivitas seismik di kawasan tersebut masih terus dipantau secara berkelanjutan.