KENDARI — Sebanyak 100 titik panas terdeteksi menyebar di 14 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara sepanjang Rabu (26/8/2026). Hasil pemantauan satelit BMKG itu menjadi sinyal awal meningkatnya potensi karhutla di tengah musim kemarau yang masih melanda wilayah tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sultra, Kusairi, mengungkapkan data ini dihimpun dari satelit polar seperti NOAA-20, Suomi NPP, Terra, dan Aqua. Teknologi tersebut mendeteksi anomali suhu permukaan yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
"Pemantauan titik panas merupakan salah satu upaya untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan. Namun, keberadaan titik panas tidak serta-merta menunjukkan bahwa telah terjadi kebakaran," jelas Kusairi dalam keterangan resminya, Kamis (27/8/2026).
Konawe Mendominasi, 5 Wilayah Bebas Hotspot
Kabupaten Konawe mencatatkan diri sebagai daerah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. Dari 36 titik yang terpantau, dua di antaranya berada pada tingkat kepercayaan rendah dan 34 titik lainnya berstatus menengah.
Disusul Kabupaten Muna dengan 19 titik panas yang seluruhnya berstatus menengah. Kolaka Timur mencatat 10 titik, disusul Buton Utara tujuh titik, dan Muna Barat enam titik.
Sejumlah daerah lain turut terpantau memiliki titik panas, yakni Bombana, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Wakatobi masing-masing empat titik. Kolaka tercatat tiga titik, Buton dua titik, serta Kota Kendari satu titik.
Adapun lima wilayah yang bebas dari pantauan titik panas adalah Kota Baubau, Buton Selatan, Buton Tengah, Kolaka Utara, dan Konawe Kepulauan.
Mengapa Titik Panas Perlu Dikonfirmasi ke Lapangan?
BMKG mengingatkan hasil pemantauan satelit tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan. Keberadaan titik panas tetap harus diverifikasi langsung di lokasi karena potensi kesalahan deteksi masih mungkin terjadi.
Wilayah yang tertutup awan tebal atau berada di area blank zone berisiko tidak terpantau oleh satelit. Kondisi ini membuat data titik panas bisa saja tidak menggambarkan situasi aktual di lapangan secara utuh.
Kendati demikian, informasi ini menjadi penting di tengah kondisi kemarau yang kian meluas. BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa udara kering yang berkepanjangan meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
Imbauan untuk Masyarakat di Zona Rawan
Masyarakat yang bermukim di wilayah dengan sebaran titik panas tinggi diminta meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas yang berpotensi memicu api, seperti membakar lahan untuk membuka kebun, sebaiknya dihindari selama musim kemarau.
BMKG bersama instansi terkait terus memantau perkembangan sebaran titik panas melalui pengamatan satelit secara berkala. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi dini untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Tenggara.