SULAWESI TENGGARA — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan langkah strategis ini dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Jakarta, Jumat. Dari total laba tersebut, dividen yang disetorkan ke kas negara mencapai Rp142,3 triliun, tumbuh 67 persen dibanding periode sebelumnya.
Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai kebijakan reinvestasi ini memberi efek berkelanjutan bagi perekonomian. Menurutnya, dana yang kembali diinvestasikan akan memperkuat komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB), salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dorongan bagi Lapangan Kerja dan Devisa Negara
Herry menjelaskan, dampak paling nyata dari reinvestasi ini adalah terbukanya peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih luas. Ketika BUMN seperti Pertamina, PLN, hingga holding tambang mengucurkan investasi pada proyek hilirisasi, aktivitas ekonomi di daerah ikut bergerak—dari konstruksi hingga operasional pabrik.
“Selain itu, peluang penyerapan tenaga kerja juga akan semakin besar,” ujar Herry saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Investasi pada sektor hilirisasi juga berpotensi meningkatkan penerimaan devisa negara. Produk olahan memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas mentah. Dengan demikian, setiap ton nikel, bauksit, atau batu bara yang diolah di dalam negeri memberikan nilai tambah ekonomi yang berlipat.
Upstreaming: Strategi Akuisisi Perusahaan Global
Selain hilirisasi, pemerintah bersama Danantara menyiapkan strategi upstreaming. Langkah ini memanfaatkan keuntungan BUMN untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan terbaik dunia di sektor sumber daya alam.
Tujuannya jelas: memperoleh teknologi mutakhir, tata kelola manajemen yang lebih baik, serta akses pasar global yang selama ini sulit ditembus. Jika berhasil, posisi Indonesia dalam rantai pasok dunia akan semakin kokoh—tidak lagi sekadar pemasok bahan baku mentah.
Sepanjang 2026, pemerintah mengklaim telah melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk 26 proyek hilirisasi bersama Danantara. Proyek-proyek ini tersebar di berbagai sektor strategis dan diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Kebijakan ini menandai pergeseran paradigma pengelolaan BUMN—dari sekadar mesin setoran dividen tahunan menjadi instrumen pembangunan jangka panjang. Dengan pengawasan ketat, reinvestasi laba ini berpotensi menjadi fondasi transformasi industri nasional dalam satu dekade ke depan.