KENDARI — Tujuh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara masuk kategori risiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini mengemuka dalam Apel Siaga dan Simulasi Penanggulangan Karhutla serta Kekeringan yang dipimpin langsung Gubernur Andi Sumangerukka, Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana Sultra 2022–2026, daerah dengan risiko tinggi tersebut meliputi Kolaka, Konawe, Konawe Selatan, Bombana, Buton Tengah, Kendari, dan Baubau.
Sementara itu, seluruh kabupaten dan kota di Sultra masuk kategori risiko tinggi untuk bencana kekeringan. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada September-Oktober 2026.
Jangan Berhenti di Kegiatan Seremonial
Andi Sumangerukka mengingatkan aparat dan pemangku kepentingan agar tidak terjebak pada rutinitas seremoni. Menurutnya, esensi apel siaga adalah kesiapan logistik, personel, dan respons cepat di lapangan.
"Jangan kita hanya berhenti di apel siaga dan simulasi, tetapi betul-betul siap menghadapi bencana," kata Andi dalam keterangannya.
Gubernur menuturkan perubahan iklim global yang tidak menentu turut meningkatkan risiko bencana. Pola prediksi iklim kian sulit, sehingga kewaspadaan daerah harus lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.
Posko 24 Jam dan Patroli Terpadu di Titik Panas
Instruksi konkret pun dijatuhkan kepada para bupati dan wali kota. Mereka diminta mengaktifkan posko siaga karhutla dan kekeringan di masing-masing wilayah.
Patroli terpadu juga diminta ditingkatkan, khususnya di kawasan rawan karhutla dan hutan lindung. Deteksi dini menjadi kunci agar setiap laporan titik api segera ditangani sebelum kebakaran meluas.
BPBD provinsi maupun kabupaten/kota diinstruksikan mengaktifkan posko siaga selama 24 jam untuk mempercepat penanganan bencana.
Penegakan Hukum dan Sumber Air Alternatif
Gubernur menegaskan penegakan hukum terhadap pihak yang sengaja atau lalai melakukan pembakaran hutan dan lahan. Langkah ini dinilai penting sebagai efek jera.
Untuk menghadapi kekeringan, pemerintah daerah diminta menyiapkan sumber air alternatif. Distribusi air menggunakan armada truk tangki juga perlu disiapkan sejak sekarang, bukan setelah warga kesulitan.
Sektor kesehatan turut menjadi perhatian. Puskesmas dan rumah sakit diminta siaga mengantisipasi dampak musim kemarau, seperti penyakit yang kerap muncul saat kekeringan.
Data dan Teknologi Jadi Kunci Respons Cepat
Andi Sumangerukka menekankan pemanfaatan data, teknologi informasi, dan pemantauan satelit BMKG dalam penanganan bencana. Pelaporan bencana secara real-time dinilai krusial untuk pengambilan keputusan di lapangan.
"Betul-betul kita siap untuk menghadapi bencana. Ada data, maka kita bisa melakukan langkah-langkah," ujarnya.
Apel siaga kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sarana mitigasi dan logistik kepada sejumlah daerah. Simulasi penanganan bencana melibatkan personel gabungan TNI, Polri, BPBD, dan perangkat daerah terkait.