Pencarian

Indonesia Hadir Perdana sebagai Anggota Penuh di KTT BRICS New Delhi, Deklarasi New Delhi Disahkan

Senin, 14 September 2026 • 08:31:31 WIB
Indonesia Hadir Perdana sebagai Anggota Penuh di KTT BRICS New Delhi, Deklarasi New Delhi Disahkan
Delegasi Indonesia menghadiri KTT ke-18 BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India.

KENDARI — Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS di New Delhi, India, resmi mengesahkan Deklarasi New Delhi pada 12 September 2026. Pertemuan puncak di Bharat Mandapam itu mengusung tema "Building for Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability".

Bagi Indonesia, kehadiran di forum ini menjadi momentum historis. Delegasi Indonesia hadir sebagai anggota penuh untuk pertama kalinya sejak bergabung dalam blok ekonomi berkembang tersebut.

Reformasi Lembaga Multilateral Jadi Poin Fundamental

Salah satu poin paling fundamental dalam Deklarasi New Delhi adalah komitmen kolektif mereformasi lembaga-lembaga multilateral utama. Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia, dan Dana Moneter Internasional masuk dalam agenda reformasi tersebut.

Reformasi dipandang mutlak agar institusi keuangan dan politik dunia lebih representatif terhadap realitas kekuatan ekonomi global saat ini. Ketimpangan global dan ketidakpastian geopolitik kontemporer menjadi latar belakang dorongan tersebut.

Rantai Pasok, Digitalisasi, dan Transisi Energi Masuk Kesepakatan

Deklarasi New Delhi memberikan penekanan kuat pada penguatan rantai pasok global yang tangguh serta transformasi digital yang inklusif. Negara-negara anggota sepakat bahwa inovasi teknologi tidak boleh menjadi hak eksklusif negara maju, melainkan instrumen pemerataan kesejahteraan umat manusia.

Ketahanan pangan dan transisi energi berkelanjutan juga menjadi pilar penting dalam dokumen akhir KTT. Kolaborasi riset dan transfer teknologi hijau antarnegara anggota diupayakan untuk mengakselerasi target pembangunan berkelanjutan tanpa mengorbankan kepentingan ekonomi domestik.

Dorongan Penggunaan Mata Uang Lokal dalam Perdagangan Bilateral

Terobosan signifikan lainnya mencakup dorongan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral antarnegara anggota atau Local Currency Settlement (LCS). Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menciptakan stabilitas keuangan makro serta mengurangi kerentanan terhadap gejolak mata uang tunggal global.

Direktur Geopolitik GREAT Institute Dr. Teguh Santosa menilai substansi Deklarasi New Delhi mampu merumuskan langkah taktis dalam menjawab ketimpangan global. Menurutnya, dokumen komprehensif itu juga meredam ketidakpastian geopolitik kontemporer.

"Kehadiran Indonesia dalam forum strategis ini turut memperkuat gaung solidaritas Asia-Afrika yang berakar dari Semangat Bandung 1955. Prinsip kesetaraan kedaulatan dan penolakan terhadap hegemoni sepihak menemukan saluran institusional yang efektif melalui wadah kerja sama ekonomi berkembang seperti BRICS," ujar dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta itu.

Peluang Integrasi Kepentingan Nasional ke Kerangka Lintas Benua

Partisipasi perdana Indonesia membuka peluang lebar untuk mengintegrasikan kepentingan nasional ke dalam kerangka kerja sama ekonomi lintas benua yang masif. Sinergi ini melengkapi posisi tawar Indonesia di kancah internasional tanpa meninggalkan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Teguh menilai keberhasilan India selaku tuan rumah dalam merumuskan konsensus menunjukkan kepemimpinan kawasan yang matang. Kemampuan menjembatani kepentingan berbagai negara dengan spektrum politik yang beragam menjadi kunci utama soliditas blok ekonomi ini.

Tantangan Implementasi Pasca-KTT New Delhi

Kendati demikian, Teguh mengingatkan tantangan terbesar pasca-KTT New Delhi terletak pada implementasi nyata dari seluruh komitmen di atas kertas. Kredibilitas BRICS kini diuji oleh seberapa cepat kebijakan strategis dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

"Keterlibatan aktif Indonesia diharapkan mampu menjadi katalisator pengisi substansi kerja sama yang berpihak pada keadilan sosial global. Suara Indonesia akan memperkuat posisi tawar negara-negara berkembang dalam menuntut tata ekonomi dunia yang lebih adil dan transparan," kata Teguh menggarisbawahi.

Deklarasi New Delhi dinilai bukan sekadar dokumen diplomatik formal, melainkan peta jalan menuju tatanan dunia multipolar yang lebih berimbang. Pergeseran poros kekuatan ekonomi global kian nyata dengan semakin terkonsolidasinya kekuatan negara-negara berkembang.

Partisipasi sukses Indonesia di KTT BRICS 2026 menegaskan diplomasi Indonesia berada di jalur yang tepat dalam merespons dinamika zaman. Peran strategis ini sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai motor penggerak perdamaian dan kemakmuran kawasan serta dunia.

Follow inisultra.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radarkendari.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks