KENDARI — Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada triwulan II 2026 tetap menunjukkan momentum positif di tengah perlambatan sejumlah sektor utama. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sultra, ekonomi daerah tumbuh 6,19 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan capaian nasional yang berada di level 5,29 persen.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sultra, Edwin Permadi, mengungkapkan bahwa industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan dengan catatan 14,78 persen yoy. Sektor ini didorong oleh peningkatan produksi logam dasar seiring kenaikan harga feronikel, serta produksi makanan dan minuman untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Industri Pengolahan dan Konstruksi Masih Ekspansif
Selain industri pengolahan, sektor konstruksi juga tumbuh solid di angka 8,81 persen yoy. Proyek pembangunan kawasan industri dan smelter, belanja modal bangunan pemerintah, serta penyelesaian fisik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi penopang utama sektor ini.
Dari sisi perdagangan, omzet meningkat 9,64 persen yoy. Pertumbuhan ini dipicu oleh transaksi makanan dan minuman serta penjualan bahan bakar minyak (BBM) yang lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Konsumsi Rumah Tangga dan Belanja Pemerintah Melesat
Permintaan domestik tercatat sangat kuat. Konsumsi rumah tangga tumbuh 12,53 persen yoy, ditopang oleh peningkatan konsumsi makanan-minuman, aktivitas wisata, dan transaksi digital selama liburan serta rangkaian HUT Sultra. Belanja pemerintah juga tumbuh di angka yang sama, seiring pencairan gaji ke-13 dan perluasan program MBG.
Investasi yang tercermin dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 13,92 persen yoy. Pembangunan smelter nikel dan peningkatan impor mesin menjadi pendorong utama. Dari sisi eksternal, ekspor tumbuh 12,07 persen yoy berkat pengiriman produk logam dasar seperti feronikel dan komoditas non-tambang.
Pertanian dan Tambang Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Di balik kinerja impresif tersebut, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh 1,64 persen yoy. Edwin menjelaskan, penurunan produksi padi menjadi penyebab utama perlambatan di sektor ini.
Sektor pertambangan dan penggalian juga tumbuh terbatas di angka 5,18 persen yoy. Kebijakan pemerintah yang memangkas kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) disebut sebagai faktor yang menahan laju pertumbuhan sektor ini.
Inflasi Juli 2026: Deflasi di Kolaka dan Konawe, Kendari Alami Inflasi
Di tengah pertumbuhan yang kuat, inflasi Sultra pada Juli 2026 tercatat 3,43 persen yoy, masih dalam rentang sasaran nasional. Secara bulanan, terjadi deflasi 0,19 persen, dengan Kendari mencatat inflasi bulanan 1,29 persen dan Baubau 0,44 persen. Sementara Kolaka dan Konawe masing-masing mencatat deflasi 0,14 persen dan 0,19 persen.
Komoditas seperti udang basah, bensin, dan minyak goreng menjadi pendorong inflasi bulanan. Sebaliknya, tomat, ikan selar, bayam, dan kangkung menahan laju kenaikan harga.
BI Waspadai Kenaikan Harga Beras dan Ayam pada Agustus
BI Sultra menyoroti sejumlah risiko inflasi jangka pendek pada Agustus 2026. Kenaikan harga beras, telur, daging ayam ras, minyak goreng, serta barang berbasis plastik berpotensi menekan daya beli. Gangguan produksi pertanian dan penguatan permintaan rumah tangga juga disebut sebagai pemicu tekanan harga.
Untuk keseluruhan 2026, tekanan biaya produksi, kenaikan harga energi, peningkatan harga emas, dan bahan bangunan menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Sinergi antara pemerintah daerah, BI, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mengendalikan harga. (YUS)