SULAWESI TENGGARA — Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali erupsi pada Sabtu (26/9/2026) pukul 10.47 WITA dengan tinggi kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status gunung di Level II atau Waspada. Dalam sepekan terakhir, gunung ini tercatat sudah 10 kali erupsi.
PVMBG melalui aplikasi MAGMA Indonesia melaporkan kolom abu erupsi berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi 72 detik.
Pengamatan kegempaan pada 26 September 2026 pukul 00.00-23.59 WITA menunjukkan 226 kali gempa letusan dengan amplitudo 19,5-40 milimeter dan lama gempa 32-142 detik. Terjadi pula 1 kali gempa guguran dengan amplitudo 3,9 mm dan lama 57 detik, serta 156 kali gempa hembusan dengan amplitudo 7,8-40 milimeter dan lama 20-66 detik.
Zona Berbahaya yang Harus Dihindari
PVMBG menghimbau masyarakat di sekitar gunung maupun pengunjung, pendaki, dan wisatawan agar tidak memasuki wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas. Larangan serupa berlaku untuk radius 3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara.
Warga yang bermukim di sekitar kawasan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan abu. Masker dan pelindung mata sebaiknya disiapkan jika abu vulkanik mulai turun ke permukiman.
Posisi Ili Lewotolok di Peta Vulkanik Nasional
Sepanjang 2026, MAGMA Indonesia merekam 4.798 letusan gunung api di seluruh Indonesia. Gunung Semeru di Jawa Timur memimpin dengan 1.859 letusan, sementara Ili Lewotolok mencatat 154 letusan.
Angka tersebut menempatkan Ili Lewotolok sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia, meski frekuensinya masih jauh di bawah Semeru. Aktivitas vulkanik gunung ini tercatat meningkat dalam sepekan terakhir dengan 10 erupsi.
Dampak bagi Wisatawan dan Pendaki
Bagi traveler yang berencana mendaki atau mengunjungi kawasan sekitar Ili Lewotolok, penundaan perjalanan sangat disarankan selama status masih Waspada. Jalur pendakian yang masuk zona radius 2 kilometer tidak boleh dilalui dalam kondisi apa pun.
Wisatawan yang tetap berada di Lembata untuk keperluan lain sebaiknya memantau informasi resmi dari PVMBG melalui aplikasi MAGMA Indonesia. Perubahan status bisa terjadi kapan saja mengikuti perkembangan aktivitas gunung.
Informasi terkini mengenai status dan rekomendasi keselamatan dapat dikonfirmasi melalui PVMBG atau Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.