KENDARI — Mutasi jabatan di lingkungan Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara kembali terjadi. Brigjen Pol Budi Hermawan kini resmi mengemban amanah sebagai Wakapolda Sultra, menggantikan Brigjen Pol Gidion Arif Setyawan.
Pergantian pucuk pimpinan di jajaran Polda Sultra ini merupakan bagian dari rotasi dan penyegaran organisasi yang rutin dilakukan oleh institusi Polri. Brigjen Pol Gidion Arif Setyawan, yang sebelumnya menjabat Wakapolda, kini dimutasi untuk mengisi posisi baru di luar struktur kepolisian daerah setempat.
Mutasi di Lingkungan Polri: Penyegaran Organisasi
Proses serah terima jabatan Wakapolda Sultra ini berlangsung di Markas Polda Sulawesi Tenggara, Kendari. Brigjen Pol Budi Hermawan, yang dikenal memiliki pengalaman luas di bidang reserse dan operasional, diharapkan mampu membawa angin segar bagi kinerja kepolisian di wilayah tersebut.
“Mutasi adalah hal yang biasa dalam organisasi Polri. Ini adalah bagian dari pembinaan karier dan upaya untuk terus meningkatkan kinerja serta pelayanan kepada masyarakat,” ujar sumber internal Polda Sultra, Senin lalu.
Brigjen Pol Budi Hermawan: Sosok dengan Pengalaman Operasional
Brigjen Pol Budi Hermawan bukanlah wajah baru di lingkungan Polda Sultra. Sebelumnya, ia pernah menjabat sejumlah posisi strategis di beberapa daerah. Pengalamannya di bidang reserse dan intelijen diyakini akan memperkuat upaya penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan di Sulawesi Tenggara.
Sementara itu, Brigjen Pol Gidion Arif Setyawan, selama menjabat Wakapolda Sultra, dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dan pengamanan Pilkada serentak. Dedikasinya selama bertugas di Bumi Antero mendapat apresiasi dari berbagai elemen masyarakat.
Apa Dampak Pergantian Ini bagi Masyarakat Sultra?
Pergantian pejabat utama di Polda Sultra diharapkan tidak mengganggu pelayanan publik dan pengungkapan kasus-kasus kriminal yang tengah berjalan. Masyarakat Sultra berharap, dengan kepemimpinan baru di posisi Wakapolda, situasi kamtibmas tetap kondusif dan penanganan perkara semakin profesional.
Rotasi ini juga menjadi sinyal bahwa Polri terus melakukan evaluasi internal untuk menjawab tantangan tugas yang semakin kompleks, terutama di daerah dengan karakteristik geografis seperti Sulawesi Tenggara.