Pencarian

8 Kota Besar Berpotensi Hujan Ringan hingga Sedang Termasuk Kendari, BMKG Rilis Daftar Wilayah Berawan

Senin, 08 Juni 2026 • 11:33:31 WIB
8 Kota Besar Berpotensi Hujan Ringan hingga Sedang Termasuk Kendari, BMKG Rilis Daftar Wilayah Berawan
BMKG prediksi hujan ringan hingga sedang di delapan kota besar termasuk Kendari hari ini.

JAKARTA — BMKG merilis prakiraan cuaca terkini untuk Senin ini, dengan delapan kota besar di Indonesia berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang. Salah satu wilayah yang masuk daftar adalah Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara.

Wilayah Mana Saja yang Berpotensi Hujan?

Berdasarkan data dari laman resmi BMKG yang dikutip Senin, hujan ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di sejumlah kota. Selain Kendari, wilayah lain yang masuk kategori ini adalah Banda Aceh, Medan, Palangkaraya, Pontianak, Tanjung Selor, Samarinda, Mamuju, Palu, Manado, Ambon, Sorong, Nabire, dan Merauke.

Sementara itu, dua kota besar diprakirakan mengalami hujan lebih intens. BMKG memperingatkan potensi hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di Tanjungpinang dan Palembang.

Apa Pemicu Pertumbuhan Awan Hujan?

Henokhvita menerangkan bahwa kondisi ini dipicu oleh daerah konvergensi atau pertemuan massa udara. Konvergensi tersebut memanjang dari perairan utara Maluku Utara hingga utara Papua Barat, perairan selatan Kalimantan Tengah hingga Selat Karimata, serta dari Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Timur.

"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah yang dilewati konvergensi atau konfluensi," jelas Henokhvita dalam keterangan resminya.

Kota Besar yang Diprakirakan Berawan Saja

Sebaliknya, BMKG mencatat 18 kota besar lainnya hanya akan berawan tanpa hujan. Wilayah tersebut meliputi Pekanbaru, Bandar Lampung, Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar, Gorontalo, Ternate, Manokwari, Jayapura, dan Jayawijaya.

Fenomena Bediding Bukan Cuaca Ekstrem

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani meluruskan narasi yang berkembang di media sosial mengenai fenomena bediding. Ia menegaskan bahwa penurunan suhu udara pada malam hingga pagi hari bukanlah kejadian cuaca ekstrem.

"Perlu dipahami bahwa bediding bukanlah fenomena yang 'melanda' seperti kejadian cuaca ekstrem, melainkan kondisi musiman ketika udara terasa lebih dingin akibat berkurangnya tutupan awan," kata Ida di Jakarta, Sabtu (6/7).

Ia menjelaskan, rasa dingin yang menguat terjadi karena radiasi balik dari bumi langsung dilepaskan ke atmosfer tanpa adanya awan. Kondisi ini diperkuat oleh rendahnya kelembapan udara dan meningkatnya pengaruh aliran massa udara kering dari Australia.

Karakteristik suhu dingin musiman ini biasanya mulai terasa pada Juni dan meningkat pada Juli hingga Agustus, terutama saat cuaca malam hari cerah dan angin timuran atau Monsun Australia semakin menguat.

Bagikan
Sumber: sultra.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks