SULAWESI TENGGARA — Perluasan ini menyusul terbitnya sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda dan Integrated Terminal (IT) Surabaya. Kedua sertifikat tersebut resmi terbit pada 8 Agustus 2026 dan berlaku selama satu tahun ke depan.
Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso, mengatakan pihaknya kini memiliki cakupan layanan yang lebih luas untuk melayani maskapai. "Dengan semakin luasnya cakupan sertifikasi dan kesiapan rantai pasok, kami optimistis dapat memberikan layanan yang semakin dekat dengan kebutuhan maskapai sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem SAF nasional," ujarnya, Rabu (2/9).
Sertifikasi ISCC Jadi Gerbang Perluasan
Dengan tambahan dua lokasi tersebut, total fasilitas Pertamina Patra Niaga yang mengantongi sertifikasi ISCC mencapai lima titik. Rinciannya adalah AFT Soekarno-Hatta, AFT Halim Perdanakusuma, AFT Ngurah Rai, AFT Juanda, dan IT Surabaya.
Sertifikasi ISCC menjadi standar internasional yang menjamin pengelolaan SAF memenuhi aspek kepatuhan, tata kelola, ketertelusuran, dan chain of custody. Ini memasuki tahun ketiga implementasi di tubuh Pertamina Patra Niaga.
Penambahan di AFT Juanda membuka peluang menangkap permintaan voluntary dari maskapai yang beroperasi di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Sementara IT Surabaya menjadi integrated terminal pertama perseroan yang mendapatkan sertifikasi serupa, menandai perluasan standar keberlanjutan di luar fasilitas khusus aviasi.
Menuju Mandat SAF 2027
Penguatan sertifikasi ini bukan sekadar formalitas. Pertamina Patra Niaga tengah mempersiapkan diri menghadapi kewajiban pencampuran SAF yang akan diberlakukan Pemerintah Indonesia mulai 2027. Persiapan mencakup penguatan operasional, infrastruktur, hingga tata kelola rantai pasok bahan bakar ramah lingkungan tersebut.
Alimuddin menjelaskan, pengembangan SAF merupakan bagian dari dual growth strategy Pertamina untuk mengembangkan ekosistem biofuel dan bisnis rendah karbon. "Langkah ini menjadi bagian dari strategi Pertamina dalam mengembangkan ekosistem biofuel dan bisnis rendah karbon, sekaligus mendukung upaya pencapaian target net zero emission Indonesia pada 2060," jelasnya.
Dengan lima lokasi yang tersertifikasi, Pertamina Patra Niaga menempatkan diri di posisi depan industri penerbangan hijau nasional. Infrastruktur yang semakin tersebar akan menentukan seberapa cepat maskapai domestik bisa mengadopsi bahan bakar yang lebih bersih ini.
Untuk tahap awal, SAF yang dipasarkan menggunakan campuran co-processing minyak sawit hingga 2,4 persen. Teknologi ini memungkinkan produk tetap memenuhi spesifikasi aviasi internasional tanpa mengubah infrastruktur maskapai yang ada.