Kendari — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggelar dukungan penuh terhadap penataan infrastruktur Kota Kendari untuk mempersiapkan penyelenggaraan forum internasional United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) 2026. Agenda utama meliputi penanganan sungai, penataan drainase perkotaan, dan penguatan sistem pengendalian banjir untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
Normalisasi Dua Sungai Utama Dimulai April 2026
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari melaksanakan normalisasi Sungai Korumba dan Sungai Mandonga di Kecamatan Mandonga sepanjang April 2026. Pada Sungai Korumba, pekerjaan normalisasi dilakukan sepanjang 650 meter dengan lebar penanganan 13 meter, sementara Sungai Mandonga ditangani sepanjang 900 meter dengan lebar 12 meter.
Pekerjaan normalisasi melibatkan pengerukan sedimen dan pendalaman alur sungai untuk meningkatkan kapasitas tampung serta memperlancar aliran air. Strategi ini dimulai dari bagian muara guna memastikan aliran air berjalan lancar dari hulu menuju hilir dan meminimalkan risiko genangan.
Tiga Koridor Drainase Utama Masuki Tahap Desain 2026
Kementerian PU menyiapkan rencana pembangunan drainase utama perkotaan pada tiga koridor prioritas di Kota Kendari. Kawasan Sungai Korumba ditargetkan sepanjang 2 kilometer, Sungai Bonggoeya sepanjang 4,5 kilometer, dan koridor Polresta–Sungai Wanggu sepanjang 1,7 kilometer.
Pembangunan sistem drainase dirancang melalui kolaborasi antara BWS Sulawesi IV Kendari dan Pemerintah Kota Kendari. Pada tahun 2026, fokus diarahkan pada penyelesaian pembebasan lahan dan penyiapan desain teknis, sedangkan pelaksanaan konstruksi direncanakan dimulai pada tahun berikutnya.
Kolam Retensi Nanga-Nanga Kurangi Banjir hingga 54 Persen
Dalam jangka menengah, Kementerian PU merencanakan pembangunan Kolam Retensi Nanga-Nanga di Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, pada periode 2027–2029. Infrastruktur ini dirancang memiliki volume tampungan mencapai 1,58 juta meter kubik dengan kapasitas pereduksian banjir hingga 54,14 persen atau setara 141,67 meter kubik per detik.
Selain berfungsi sebagai pengendali banjir, kolam retensi juga dirancang menjadi area konservasi air, meningkatkan infiltrasi, menjaga kualitas air, serta menghadirkan ruang terbuka publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk olahraga dan rekreasi.
Strategi Penanganan Berbasis Muara Sungai
Menteri PU Dody Hanggodo menekankan pentingnya penanganan sungai dimulai dari muara. Pendekatan ini memastikan sedimen terbuang ke laut sehingga kapasitas aliran tetap terjaga. Perbaikan infrastruktur jalan akan sia-sia jika drainase tersumbat dan muara mengalami pendangkalan, memicu banjir rob atau genangan saat musim hujan.
Manfaat Jangka Panjang bagi Warga Kendari
Melalui penataan infrastruktur yang dilakukan secara bertahap, Kementerian PU berharap Kota Kendari semakin siap menjadi tuan rumah UCLG ASPAC 2026 sekaligus memperoleh manfaat jangka panjang. Kawasan perkotaan diharapkan menjadi lebih tertata, nyaman, dan tangguh terhadap banjir, meningkatkan mobilitas masyarakat dan kualitas lingkungan secara keseluruhan.