KENDARI — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara untuk mempercepat peningkatan literasi di wilayah tersebut. Kolaborasi ini menitikberatkan pada peran strategis Duta Bahasa dalam menjaga kedaulatan bahasa sekaligus memperkuat literasi keuangan nasional.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, mengapresiasi tingginya antusiasme pemuda di Sulawesi Tenggara yang mengikuti ajang pemilihan Duta Bahasa 2026. Menurutnya, pemuda memiliki peran vital sebagai penerus semangat Sumpah Pemuda dalam menjadikan bahasa Indonesia sebagai instrumen pemersatu bangsa.
"Peran pemuda dalam pembangunan bangsa sangat vital. Bangsa ini dibangun oleh semangat Sumpah Pemuda, di mana mereka berinisiatif menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Para finalis ini adalah penerus semangat tersebut," ujar Hafidz Muksin di Kendari, Sabtu (2/5) malam.
Empat Amanah Strategis bagi Duta Bahasa Sultra 2026
Para Duta Bahasa yang terpilih mengemban empat amanah utama yang selaras dengan semboyan Trigatra Bangun Bahasa. Tugas pertama adalah menjaga kedaulatan dengan mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia, baik di ruang publik maupun dalam administrasi lembaga pemerintahan di seluruh Sulawesi Tenggara.
Amanah kedua mewajibkan Duta Bahasa menjadi motor penggerak budaya literasi. Mereka diharapkan menjadi figur teladan bagi generasi z dan milenial untuk meningkatkan minat baca. Selain itu, para finalis didorong untuk tetap melestarikan bahasa daerah sebagai kekayaan budaya lokal yang tak ternilai harganya.
"Ketiga, mereka diberi motivasi untuk terus melestarikan bahasa daerah sebagai kekayaan budaya kita. Dan terakhir, mendorong mereka menguasai bahasa asing agar dapat bergaul di dunia global," kata Hafidz menjelaskan visi Trigatra Bangun Bahasa.
Bagaimana Duta Bahasa Memperkuat Literasi Keuangan di Sultra?
Bank Indonesia Sulawesi Tenggara melihat potensi besar Duta Bahasa sebagai mitra strategis dalam mengomunikasikan kebijakan ekonomi yang sering kali dianggap rumit oleh masyarakat. Deputi Kepala Perwakilan BI Sultra, Thathit Suryono, menegaskan bahwa bahasa merupakan jembatan komunikasi yang krusial untuk menyosialisasikan program bank sentral.
Melalui pendekatan bahasa dan budaya, BI Sultra berencana melibatkan para duta ini untuk mengedukasi masyarakat mengenai program Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah, pengendalian inflasi, hingga perlindungan konsumen. Para finalis yang telah melalui seleksi ketat ini diproyeksikan menjadi perpanjangan tangan BI di lapangan.
"Ke depan, kita akan kembangkan program seperti Duta Perlindungan Konsumen atau Duta CBP Rupiah. Kami juga berencana membuat media edukasi berupa cerita atau dongeng anak bertema rupiah yang menggunakan berbagai bahasa daerah di Sultra," ungkap Thathit Suryono.
Pengembangan konten edukasi berbasis kearifan lokal ini tidak hanya terbatas pada bahasa Wakatobi dan Wolio. BI Sultra berkomitmen mengeksplorasi ragam bahasa daerah lainnya di Sulawesi Tenggara guna memastikan pesan kebijakan ekonomi dapat diterima dengan baik oleh anak-anak sejak dini.
Implementasi Trigatra Bangun Bahasa di Lingkungan Sekolah
Dukungan terhadap penguatan literasi ini juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Aris Badara, menyatakan komitmennya untuk memacu sikap positif siswa terhadap bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan formal.
Aris menekankan pentingnya bagi siswa untuk merasa bangga menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa mengesampingkan identitas lokal. Menurutnya, sekolah harus menjadi laboratorium utama dalam mengimplementasikan filosofi Trigatra Bangun Bahasa secara nyata.
"Bahasa daerah adalah kekayaan lokal yang mengandung nilai-nilai luar biasa. Filosofi Trigatra Bangun Bahasa, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing harus benar-benar diimplementasikan dalam dunia pendidikan kita," tegas Aris Badara.
Pemerintah daerah berharap penguasaan bahasa asing juga terus ditingkatkan di kalangan pelajar. Hal ini dipandang sebagai modal penting bagi putra-putri daerah untuk menjadi warga dunia yang kompetitif, namun tetap memiliki akar budaya lokal yang kuat melalui pelestarian bahasa ibu mereka masing-masing.