KENDARI — Herlina (48) bukanlah nama yang tiba-tiba berubah keyakinan. Perempuan yang sehari-hari membesarkan anak-anaknya seorang diri di tengah hiruk-pikuk Kota Kendari ini butuh waktu hampir setahun untuk mantap memeluk Islam.
Keputusan itu diambil bukan karena desakan siapa pun. Justru dari pengamatan sehari-hari, Herlina melihat sesuatu yang lama-kelamaan menggerakkan hatinya.
“Mayoritas di lingkungan ku muslim. Saya lihat mereka saling baku bantu,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Proses Panjang Sebelum Syahadat
Herlina mengaku tidak serta-merta mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia dan anak-anaknya memilih jalan pelan-pelan: mengamati, bertanya, dan belajar dari tetangga sekitar.
“Saya tidak langsung ambil keputusan. Kami pelan-pelan saja dulu lihat dan belajar dari orang-orang sekitar,” katanya.
Perkenalan dengan Islam, kata Herlina, tidak lepas dari interaksi sosial yang ia jalani setiap hari. Lingkungan tempat tinggalnya yang padat dan mayoritas muslim membuat ia akrab dengan aktivitas keagamaan warga.
Menyesuaikan Ibadah di Tengah Kesibukan Sebagai Janda
Setelah memeluk Islam, Herlina mulai mempelajari dasar-dasar ibadah secara bertahap. Salat dan puasa menjadi dua hal yang ia coba jalani perlahan, sambil tetap menjalani peran sebagai ibu tunggal bagi anak-anaknya.
Ia mengakui, menjalani kehidupan tanpa suami bukanlah hal mudah. Namun, keputusan spiritual yang diambil justru memberikan ketenangan tersendiri di tengah tekanan hidup sehari-hari.
Herlina berharap bisa terus belajar dan memahami ajaran Islam secara lebih dalam. Ia tak menargetkan menjadi sempurna dalam waktu cepat—yang penting, kata dia, ada ketenangan yang kini ia rasakan.