Pencarian

CATL Mulai Produksi Massal Baterai Natrium, Kurangi Ketergantungan pada Nikel dan Kobalt

Minggu, 31 Mei 2026 • 18:46:01 WIB
CATL Mulai Produksi Massal Baterai Natrium, Kurangi Ketergantungan pada Nikel dan Kobalt
CATL mulai produksi massal baterai ion natrium sebagai alternatif bahan baku baterai kendaraan listrik.

SULAWESI TENGGARA — Kepala Ilmuwan CATL sekaligus Akademisi Akademi Teknik Tiongkok, Wu Kai, mengungkapkan bahwa perusahaan berhasil mengatasi hambatan manufaktur dan akan meluncurkan serangkaian produk baterai ion natrium pada tahun ini. Percepatan produksi ini terjadi setelah CATL memperoleh kontrak pasokan sebesar 60 GWh yang disebut sebagai pesanan baterai ion natrium tunggal terbesar di dunia.

Menurut peta jalan perusahaan, CATL tengah mengintegrasikan sistem baterai ion natrium ke berbagai segmen. Mulai dari kendaraan penumpang, kendaraan komersial, jaringan pertukaran baterai, hingga infrastruktur utilitas.

Target Jarak Tempuh 600 Kilometer

Pada tahap awal, baterai ion natrium akan diprioritaskan untuk kendaraan penumpang berbiaya rendah dan sistem penyimpanan energi. Namun, CATL tidak berhenti di situ. Perusahaan tengah mengembangkan konfigurasi sel dengan kepadatan energi yang lebih tinggi.

Target ambisius pun dipasang: generasi berikutnya dari platform ion natrium diharapkan mampu mencapai jarak tempuh hingga 600 kilometer dalam sekali pengisian daya. Angka tersebut menempatkan teknologi ion natrium sebagai alternatif serius bagi baterai lithium iron phosphate (LFP) di segmen kendaraan listrik tingkat pemula.

Dominasi Pasar dan Diversifikasi Teknologi

Ekspansi baterai ion natrium ini berlangsung di tengah dominasi CATL di pasar baterai kendaraan listrik China. Berdasarkan data China EV DataTracker, CATL memasang baterai sebesar 29,06 GWh pada April 2026, menguasai pangsa pasar sekitar 46,6 persen secara nasional. Volume tersebut terdiri atas 19,53 GWh baterai LFP dan 9,53 GWh baterai nikel-mangan-kobalt (NMC).

Masuknya baterai ion natrium ke dalam lini produksi menambah jalur teknologi baru di samping kedua produk andalan tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa produsen baterai terbesar dunia itu mulai memperluas portofolio dengan memanfaatkan bahan baku alternatif yang lebih melimpah.

Penelitian Jangka Panjang ke Teknologi Lithium-Air

Selain baterai natrium, CATL juga mengarahkan penelitian jangka panjangnya ke teknologi lithium-air. Teknologi ini menggunakan litium logam sebagai elektroda negatif dan oksigen atmosfer sebagai reaktan positif. Menurut perusahaan, pendekatan tersebut memungkinkan konfigurasi baterai dengan kepadatan energi teoritis yang lebih tinggi dibandingkan sistem baterai yang digunakan saat ini.

Dengan dimulainya produksi massal baterai ion natrium, CATL tidak hanya mengurangi ketergantungan pada nikel dan kobalt, tetapi juga membuka jalan bagi teknologi baterai yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan untuk masa depan kendaraan listrik global.

Bagikan
Sumber: kabarbursa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks