Pencarian

IPO Terbesar Jepang 2026, Go Apps Siapkan Dana Rp 9 Triliun untuk Robotaxi dan Akuisisi

Sabtu, 20 Juni 2026 • 08:07:31 WIB
IPO Terbesar Jepang 2026, Go Apps Siapkan Dana Rp 9 Triliun untuk Robotaxi dan Akuisisi
Go resmi melakukan IPO terbesar Jepang 2026 dengan dana Rp 9 triliun untuk ekspansi robotaxi dan akuisisi.

SULAWESI TENGGARA — Go resmi melantai di bursa efek Jepang pada Selasa (14/1) dalam aksi korporasi yang menjadi IPO terbesar di Negeri Sakura sepanjang 2026. Perusahaan yang berdiri sejak 1977 ini mengumpulkan dana sebesar ¥88,6 miliar (sekitar Rp 9,1 triliun) yang akan menjadi modal ekspansi besar-besaran.

Dana Segar untuk Robotaxi dan Akuisisi

Juru bicara Go mengonfirmasi bahwa dana hasil penjualan saham baru akan dialokasikan untuk dua hal utama: riset dan pengembangan robotaxi serta investasi ekspansi bisnis melalui merger dan akuisisi strategis. "Kami bermaksud menggunakan dana dari penjualan saham baru untuk investasi di riset dan pengembangan terkait robotaxi dan investasi ekspansi bisnis, termasuk merger dan akuisisi strategis di dalam dan di luar industri taksi," ujar sang juru bicara.

IPO Go menarik minat investor global kelas kakap. BlackRock, Wellington Management, dan M&G Investment Management ikut menanamkan modal, menunjukkan kepercayaan institusi keuangan dunia terhadap prospek Go di tengah lesunya musim pencatatan saham di Jepang. Meski begitu, harga saham Go sempat terkoreksi 4% ke level ¥2.314 pada Jumat (17/1) dari harga perdana ¥2.400.

Krisis Pengemudi Jadi Alasan Utama

Ambisi Go mengembangkan mobil tanpa pengemudi bukan sekadar gengsi teknologi. Data Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang menunjukkan jumlah pengemudi taksi merosot sekitar 20% dalam beberapa tahun terakhir. Populasi yang menua membuat angka ini sulit pulih.

Layanan ride-sharing memang sudah mulai beroperasi di Jepang sejak 2024, tapi aturannya masih ketat. Layanan terbatas di area tertentu dan mewajibkan pengemudi bekerja untuk perusahaan taksi — restriksi yang dinilai tidak efektif mengatasi kekurangan pengemudi.

Peta Jalan Robotaxi Go

Go saat ini mengoperasikan aplikasi ride-hailing terbesar Jepang dengan 35 juta unduhan, 85.000 kendaraan mitra, dan menguasai 80% pangsa pasar aplikasi taksi berdasarkan waktu penggunaan. Layanan Go mencakup 46 dari 47 prefektur di Jepang.

Untuk mewujudkan layanan robotaxi, Go menggandeng Waymo — anak perusahaan Alphabet yang fokus pada kendaraan otonom — bersama Nihon Kotsu, salah satu operator taksi terbesar Jepang. Go bertanggung jawab atas koordinasi strategis kemitraan ini. CEO Hiroshi Nakajima sebelumnya menegaskan Go tidak akan berinvestasi langsung pada sistem mengemudi otonom, seperti dilansir Nikkei Asia.

Go belum menetapkan jadwal pasti kapan layanan tanpa pengemudi akan beroperasi penuh. Sang juru bicara menyatakan, "Kami berencana mulai mengemudi secara otonom penuh, tanpa kehadiran spesialis manusia, saat kami memvalidasi teknologi dan menerima persetujuan untuk melakukannya."

Persaingan Sengit di Tokyo

Go bukan satu-satunya pemain yang bertaruh pada robotaxi di Tokyo. Pada Maret lalu, Uber, Wayve, dan Nissan mengumumkan rencana uji coba layanan robotaxi di Tokyo pada akhir 2026. Layanan tersebut akan menggunakan Nissan Leaf bertenaga listrik dengan penggerak AI Driver buatan Wayve dan bisa dipesan lewat aplikasi Uber. Ini menjadi kemitraan kendaraan otonom pertama Uber di Jepang.

Sembari menunggu layanan otonom, Go tetap memperkuat bisnis konvensionalnya. Perusahaan telah bermitra dengan Kakao T, Alipay, dan WeChat Pay agar wisatawan dari Korea Selatan, China, dan Taiwan bisa memesan taksi Go langsung dari aplikasi lokal mereka. Uber juga punya kerja serupa dengan S.Ride untuk wisatawan asing, begitu pula Didi Mobility Japan — joint venture SoftBank dan Didi Chuxing.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks