SULAWESI TENGGARA — Laporan terbaru Counterpoint Research mengonfirmasi bahwa pasar ponsel global belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada kuartal kedua 2026, volume pengiriman turun drastis, menekan angka penjualan ke level yang belum pernah terjadi dalam 13 tahun terakhir.
Krisis Memori dan Dampaknya ke Rantai Pasok
Penyebab utama penurunan ini adalah apa yang disebut para analis sebagai "RAMageddon" — krisis ketersediaan dan harga komponen memori yang membuat biaya produksi melonjak. Akibatnya, harga jual ponsel menjadi tidak stabil dan sejumlah produsen terpaksa menunda atau membatalkan rencana perilisan model terbaru.
Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut. Counterpoint Research memperingatkan bahwa angka pengiriman global masih akan terus menurun selama krisis pasokan chip memori belum teratasi.
Google Pixel: Satu-satunya Merek Barat yang Tumbuh
Meski pasar sedang lesu, Google justru membukukan pertumbuhan 16% year-over-year secara global pada Q2 2026. Counterpoint mengaitkan pencapaian ini dengan performa solid Pixel 10 dan Pixel 10a di negara-negara dengan pasar matang (mature markets) seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Pencapaian ini menjadikan Pixel sebagai salah satu dari sedikit merek yang mampu melawan tren negatif industri saat ini.
Samsung dan Apple Kokoh, Merek China Terpukul
Laporan yang sama juga merinci performa para pemain utama. Samsung disebut mencatat pertumbuhan terkuat di antara lima besar merek global. Apple juga masih bertahan dengan pertumbuhan tipis 3% year-over-year.
Di sisi lain, merek asal China mengalami penurunan signifikan. Xiaomi, Oppo, dan Vivo sama-sama mencatat penurunan lebih dari 10%. Pangsa pasar Xiaomi kini berada di angka 12%, disusul Oppo 11%, dan Vivo 8%.
Huawei menjadi satu-satunya merek China yang mencatat pertumbuhan positif sebesar 6%, meski dari basis pengiriman yang relatif kecil dibandingkan para pesaingnya.
Pangsa Pasar Bergeser ke Dua Kutub
Data pangsa pasar menunjukkan polarisasi yang semakin jelas. Samsung dan Apple berhasil memperbesar porsi mereka, sementara merek-merek lain terus menyusut. Ini menandakan bahwa konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi cenderung memilih merek dengan ekosistem dan layanan purnajual yang matang.
Apa Artinya bagi Konsumen Indonesia?
Meskipun Google Pixel belum secara resmi dipasarkan di Indonesia, pertumbuhan global merek ini kerap menjadi indikator tren yang akan merambah pasar Asia Tenggara. Namun, krisis memori yang masih berlangsung berarti harga ponsel di kelas menengah dan flagship — termasuk dari Samsung dan Apple — berpotensi tetap tinggi dalam waktu dekat.
Bagi konsumen yang sedang mempertimbangkan pembelian, situasi ini menegaskan pentingnya membandingkan spesifikasi dan harga secara cermat sebelum memutuskan, terutama karena fluktuasi harga komponen dapat memicu perubahan harga eceran yang tidak terduga.