KENDARI — Pelemahan rupiah pada Selasa pagi ini melanjutkan tren negatif yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Di Sulawesi Tenggara, pergerakan kurs ini langsung berdampak pada harga barang impor dan biaya transaksi usaha kecil yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.
Posisi Rupiah Terhadap Dolar AS pada Selasa (30/6)
Pada pukul 11.06 WIB, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.883 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan tipis dibandingkan penutupan Senin (29/6) yang berada di level Rp17.851 per dolar AS.
Pelemahan sebesar 32 poin ini terjadi di tengah masih kuatnya ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Faktor eksternal itu menekan hampir seluruh mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.
Dampak ke Ekonomi Lokal Sultra
Bagi pelaku UMKM di Kendari dan sekitarnya yang bergantung pada barang impor—seperti sparepart kendaraan, bahan kimia, atau peralatan elektronik—pelemahan rupiah berarti biaya produksi ikut naik. Harga jual pun terpaksa disesuaikan.
Di sisi lain, pengusaha yang bergerak di sektor ekspor komoditas unggulan Sultra, seperti nikel dan hasil laut, justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar jika dikonversi ke rupiah.
Sentimen Pasar yang Membayangi
Pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir sangat dipengaruhi oleh sikap hawkish The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan awal. Data inflasi AS yang masih di atas target turut memperkuat sentimen tersebut.
Analis menilai, tanpa intervensi signifikan dari Bank Indonesia, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Pasar menunggu langkah konkret otoritas moneter untuk menahan laju pelemahan.
Bagaimana Proyeksi ke Depan?
Pelaku pasar di Kendari disarankan untuk mencermati pergerakan kurs secara harian, terutama bagi yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS. Fluktuasi yang terjadi bisa mempengaruhi margin usaha secara langsung.
Bank Indonesia sendiri terus memantau stabilitas nilai tukar dan siap melakukan operasi pasar jika diperlukan. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terkait langkah intervensi terbaru.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas | Editor: Faidin