JAKARTA — Pergerakan rupiah pada awal perdagangan Kamis pagi kembali menunjukkan tekanan. Mata uang Garuda tercatat melemah 26 poin menjadi Rp17.978 per dolar AS, setelah pada penutupan sebelumnya bertengger di level Rp17.952 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah masih kuatnya indeks dolar AS di pasar global. Investor asing cenderung wait and see menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat yang bisa mempengaruhi arah suku bunga The Fed.
Level Rp17.978, Dekati Titik Terlemah dalam Pekan Ini
Posisi Rp17.978 per dolar AS menjadi level terendah rupiah dalam beberapa hari terakhir. Sejak awal pekan, rupiah sudah menunjukkan tren melemah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Analis menilai pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi AS dan kebijakan moneter bank sentral Amerika. Sentimen risk-off masih mendominasi perdagangan mata uang di kawasan Asia.
Dolar AS Perkasa, Rupiah Ikut Tertekan Bersama Mata Uang Asia Lainnya
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan serupa akibat penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah berada dalam posisi yang cukup rapuh terhadap fluktuasi eksternal.
Bank Indonesia sendiri terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, tekanan eksternal yang besar membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap sentimen global jangka pendek.
Hingga berita ini diturunkan, rupiah masih diperdagangkan di kisaran Rp17.970 hingga Rp17.985 per dolar AS. Pelaku pasar masih menunggu katalis positif dari dalam negeri untuk mendorong penguatan.