SULAWESI TENGGARA — BEI mencatat, gelombang pencatatan surat utang terjadi pada 6-10 Juli 2026, di tengah euforia IPO yang masih berlangsung. Langkah ini menjadi strategi alternatif bagi perusahaan untuk menggalang dana segar tanpa mendilusi kepemilikan saham.
Japfa Terbitkan Obligasi Rp 500 Miliar, Kupon Tertinggi 9,5%
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi salah satu emiten yang memulai proses pencatatan pada 8 Juli 2026. Perusahaan peternakan ini menerbitkan obligasi senilai Rp 500 miliar yang telah mengantongi peringkat A+ dari Pefindo.
Untuk menarik minat investor, Japfa menawarkan dua seri obligasi. Seri A bertenor 3 tahun dengan kupon 9,25 persen, sementara Seri B bertenor 5 tahun dengan kupon 9,50 persen. Tingkat kupon ini kompetitif di tengah tren suku bunga acuan yang masih tinggi.
Pindo Deli Ikut Ramaikan, Kupon Sentuh 10,5%
Tak hanya Japfa, PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills yang merupakan bagian dari Sinarmas Group juga ikut mencatatkan obligasi. Perusahaan kertas tersebut menerbitkan surat utang senilai Rp 455,96 miliar.
Pindo Deli juga menyediakan dua pilihan tenor bagi investor. Seri A dengan tenor 3 tahun menawarkan kupon 10 persen, sedangkan Seri B bertenor 5 tahun menawarkan kupon lebih tinggi, yaitu 10,5 persen. Imbal hasil ini mencerminkan persepsi risiko dari sektor pulp dan kertas yang tengah menghadapi fluktuasi harga komoditas global.
Deretan Emiten Lain: Dari Perbankan hingga Infrastruktur
Selain JPFA dan Pindo Deli, sejumlah perusahaan besar lainnya juga akan mencatatkan obligasi dan sukuk pekan ini. Berikut daftar emiten yang turut meramaikan:
- PT Bank UOB Indonesia
- PT Pegadaian (Persero)
- PT CIMB Niaga Auto Finance
- PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP)
- PT Indonesia Infrastructure Finance
- PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT)
Kehadiran bank, perusahaan pembiayaan, hingga BUMN menunjukkan bahwa instrumen utang masih menjadi primadona untuk mendanai ekspansi bisnis dan memenuhi kebutuhan modal kerja di semester kedua tahun ini.
Apa Artinya bagi Investor Obligasi?
Bagi investor yang mencari pendapatan tetap, derasnya pasokan obligasi korporasi ini membuka lebih banyak pilihan diversifikasi portofolio. Kupon di kisaran 9,25 persen hingga 10,5 persen menawarkan yield yang lebih tinggi dibandingkan deposito perbankan saat ini.
Namun, investor wajib mencermati peringkat kredit dan fundamental penerbit. Obligasi dengan kupon tinggi biasanya datang dari sektor yang lebih siklikal, seperti komoditas. Risiko gagal bayar (default) tetap menjadi variabel yang harus diperhitungkan dalam setiap keputusan investasi. Investasi mengandung risiko.