KENDARI — Catatan perjalanan Dr. Teguh Santosa dari Kunming, ibu kota Yunnan, mengungkap bagaimana koperasi mengorganisir petani dan produsen kecil untuk menerapkan pertanian regeneratif. Melalui koperasi, para pelaku usaha mikro di pedesaan mengakses pelatihan teknologi modern, sertifikasi organik, dan manajemen rantai pasok yang lebih efisien.
Dari Teh Organik hingga Biogas: Hasil Konkret di Akar Rumput
Praktik pertanian konvensional yang merusak tanah mulai ditinggalkan. Petani beralih ke metode ramah lingkungan untuk komoditas seperti teh organik, kopi, dan tanaman herbal. Hasilnya, nilai tambah produk lokal meningkat tanpa perlu ekspansi lahan secara destruktif.
Koperasi di Yunnan juga menjadi inisiator proyek energi bersih skala kecil. Mulai dari instalasi biogas dari limbah pertanian, pengelolaan koperasi hutan untuk perlindungan mata air, hingga pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. "Dengan model kepemilikan bersama, manfaat ekonomi hijau tidak hanya dinikmati korporasi besar, tetapi terdistribusi secara adil kepada masyarakat lokal," tulis Teguh dalam catatannya.
Relevansi Bung Hatta dan Semangat Ekonomi Kerakyatan
Sejarah koperasi di Indonesia tak lepas dari pemikiran Mohammad Hatta yang menyebutnya sebagai soko guru perekonomian nasional. Di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono, semangat ekonomi kerakyatan kembali mendapat ruang. Program ketahanan pangan dan hilirisasi industri membuka peluang bagi koperasi untuk terlibat dalam rantai pasok nasional.
Menurut Teguh, koperasi terbukti lebih tangguh menghadapi krisis ekonomi dibandingkan korporasi besar yang bergantung pada modal asing dan spekulasi pasar. Hal ini menjadi modal penting bagi daerah seperti Sulawesi Tenggara yang tengah mendorong hilirisasi sumber daya alam.
Pelajaran bagi Daerah: Koperasi sebagai Jembatan Ekologi dan Ekonomi
Transformasi Yunnan menunjukkan bahwa koperasi bisa menjadi jembatan antara pelestarian lingkungan dan peningkatan pendapatan petani. Di Sulawesi Tenggara, potensi komoditas seperti kopi, kakao, dan hasil hutan bukan kayu dapat dikelola dengan pola serupa.
Koperasi berfungsi mendemokratisasi akses terhadap teknologi energi bersih dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan menjadi fondasi stabilitas ekosistem jangka panjang.