SULAWESI TENGGARA — Gugatan Apple terhadap OpenAI bukan sekadar sengketa hukum biasa. Dokumen yang diajukan ke pengadilan pekan lalu menuduh OpenAI sengaja membangun "pola pelanggaran" dengan merekrut mantan karyawan Apple untuk mencuri informasi rahasia dagang. Nama Tang Tan, kepala divisi hardware Apple, bahkan disebut secara eksplisit dalam gugatan tersebut.
Menanggapi tuduhan ini, OpenAI menyatakan "tidak mengetahui bukti apa pun yang mendasari keluhan ini." Namun, dampak gugatan ini jauh lebih luas dari sekadar perang pernyataan.
Ancaman Nyata di Balik Speaker AI Jony Ive
OpenAI selama ini dikabarkan tengah menggarap perangkat keras pertamanya: sebuah speaker pintar portabel yang selalu aktif mendengarkan pengguna. Proyek ini digarap bersama desainer legendaris Jony Ive, mantan kepala desain Apple yang juga mendesain iPhone.
Dalam episode terbaru podcast TechCrunch Equity, jurnalis Sean O'Kane memperingatkan bahwa gugatan ini bisa menyebabkan penundaan serius. "Terlepas dari apakah pengadilan memberikan putusan sementara atau tidak, gugatan ini secara alami akan menyebabkan keterlambatan pada apa yang sedang dikerjakan OpenAI," ujarnya. "Saya yakin itu bagian dari pertimbangan Apple. Mereka tidak melakukan hal seperti ini sembarangan."
IPO di Ujung Tanduk
Yang lebih krusial, gugatan ini muncul di saat OpenAI bersiap melantai di bursa. Perusahaan telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia, dengan target realisasi akhir tahun ini atau awal tahun depan.
Masalahnya, valuasi OpenAI saat ini hampir sepenuhnya bertumpu pada bisnis software. Jika rencana divisi hardware yang digadang-gadang menjadi mesin pertumbuhan baru ikut dipertaruhkan, para calon investor akan menghadapi ketidakpastian besar. "Ini mengubah banyak kalkulasi," tambah O'Kane.
Pelajaran dari Kemenangan Lawan Elon Musk
Pertanyaan besarnya: apakah OpenAI akan memilih menyelesaikan gugatan ini secepat mungkin, atau justru bertahan seperti saat menghadapi tuntutan Elon Musk? Dalam kasus sebelumnya, OpenAI memilih melawan dan menang di pengadilan.
Jurnalis Kirsten Korosec dari TechCrunch memprediksi OpenAI akan memilih opsi kedua. "Mereka sudah membuktikan bisa bertahan dari biaya dan malu-maluinnya sidang," katanya.
Kekhawatiran Privasi: Speaker yang Mendengarkan Semua Orang
Di luar aspek hukum, konsep speaker pintar OpenAI juga menuai kritik dari sisi privasi. Perangkat yang selalu aktif mendengarkan ini, menurut Anthony Ha dari TechCrunch, tidak hanya merekam suara pemiliknya tapi juga orang-orang di sekitarnya.
"Jika kita bertemu langsung, tiba-tiba perangkat itu bisa mendengarkan kita semua," ujarnya. "Norma sosial harus dinegosiasikan ulang jika perangkat semacam ini menjadi umum."
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggal pasti kapan OpenAI akan merilis perangkat keras pertamanya. Yang jelas, gugatan Apple telah menambah daftar panjang hambatan yang harus dihadapi Sam Altman dan timnya.