SULAWESI TENGGARA — Antam mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun pada 2025. Angka ini melesat 106 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan pun ikut terdongkrak 22 persen menjadi Rp84,64 triliun. Kenaikan ini terjadi di tengah volatilitas harga komoditas global dan ketidakpastian ekonomi makro yang masih membayangi.
Dividen Jumbo, Sisa Laba untuk Ekspansi
Dari total laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, Antam mengalokasikan Rp2,16 triliun atau 30 persen sebagai saldo laba ditahan. Dana ini akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha, memperkuat fundamental bisnis, dan membiayai proyek-proyek strategis ke depan.
Keputusan pembagian dividen ini bukan tanpa alasan. Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyebut tahun 2025 sebagai tonggak penting dalam sejarah perseroan. “Di tengah dinamika pasar global dan tantangan industri, Antam berhasil mencatatkan kinerja operasional dan keuangan terbaik sepanjang sejarah perseroan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (17/6).
Optimasi Portofolio Jadi Kunci
Untung menjelaskan, capaian ini tak lepas dari optimalisasi portofolio komoditas, peningkatan kinerja operasional, dan pengelolaan biaya yang efektif. Strategi bisnis yang terarah juga disebut menjadi faktor pendorong utama. “Capaian ini mencerminkan kuatnya fundamental bisnis, efektivitas strategi yang dijalankan secara disiplin, serta komitmen seluruh insan Antam dalam mengoptimalkan potensi sumber daya mineral nasional,” tambahnya.
Kinerja positif ini diraih di tengah volatilitas harga komoditas dan ketidakpastian makroekonomi. Antam membuktikan bahwa pengelolaan portofolio yang tepat bisa menjadi tameng saat pasar sedang tidak menentu.
Dengan laba bersih yang hampir dua kali lipat dan dividen jumbo yang dibagikan, Antam menunjukkan posisinya sebagai salah satu BUMN tambang yang solid. Para pemegang saham kini tinggal menunggu jadwal pencairan dividen, sementara perusahaan terus melanjutkan proyek-proyek strategis yang sudah direncanakan.