SULAWESI TENGGARA — PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) bergerak cepat menata portofolio bisnisnya. Manajemen memutuskan menggabungkan dua anak usaha di sektor energi, yakni PT Bukit Energi Investama (BEI) dan PT Bukit Energi Servis Terpadu (BEST). Dalam skema ini, BEST ditetapkan sebagai perusahaan penerima penggabungan alias surviving entity.
Nilai transaksi merger ini cukup besar. Berdasarkan penilaian KJPP Nirboyo Adiputro, Dewi Apriyanto, & Rekan per 31 Desember 2025, nilai pasar BEI mencapai Rp389,37 miliar, sementara BEST senilai Rp366,49 miliar. Total nilai penggabungan keduanya mencapai Rp755,86 miliar.
Alasan di Balik Merger: Efisiensi dan Arahan Danantara
Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, menjelaskan langkah ini bukan sekadar restrukturisasi biasa. Keputusan tersebut merupakan respons langsung terhadap arahan Danantara yang meminta BUMN melakukan streamlining atau penataan anak usaha.
“Pelaksanaan kebijakan strategis tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, memperkuat fokus pada kegiatan usaha inti perusahaan, serta memperbaiki tata kelola, melalui pengurangan duplikasi fungsi dan kegiatan usaha sejenis,” kata Eko dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/6/2026).
Skema Merger dan Perubahan Kepemilikan
Proses penggabungan ini berjalan mulus setelah BEI dan BEST menyepakati merger melalui keputusan sirkuler pengganti Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Sebelum merger, struktur kepemilikan kedua perusahaan nyaris identik. BEI dimiliki PTBA sebesar 99,6% dan sisanya oleh Yayasan Bukit Asam (YBA) 0,40%. Sementara itu, saham BEST dikuasai PTBA 99,62% dan YBA 0,38%.
Pasca-merger, BEST akan menerbitkan saham baru kepada PTBA dan YBA dengan rasio konversi 1:0,3141. Hasilnya, porsi kepemilikan PTBA di BEST akan naik tipis menjadi 99,24%, sedangkan YBA mengantongi 0,76%.
Dampak bagi Kinerja Perusahaan
Penggabungan ini diyakini akan memperkuat fundamental bisnis batubara PTBA. Dengan mengurangi entitas yang memiliki kegiatan usaha serupa, perusahaan induk bisa mengalokasikan sumber daya lebih efisien dan menghindari tumpang tindih operasional.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang holding BUMN tambang untuk merampingkan struktur organisasi di tengah tekanan efisiensi global. Meski nominal merger mencapai tiga perempat triliun rupiah, dampak terbesarnya justru pada pengelolaan biaya jangka panjang dan fokus bisnis yang lebih tajam.