Pencarian

Skuter Listrik Lime Resmi Melantai di Nasdaq, Dana Segar untuk Bayar Utang Rp 16 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 • 02:23:01 WIB
Skuter Listrik Lime Resmi Melantai di Nasdaq, Dana Segar untuk Bayar Utang Rp 16 Triliun
Lime resmi melantai di Nasdaq dengan harga saham melonjak sekitar 9 persen pada perdagangan perdana.

SULAWESI TENGGARA — Setelah nyaris satu dekade bergulat dengan ketidakpastian bisnis dan fluktuasi valuasi, Lime akhirnya mencatatkan diri di bursa saham Amerika Serikat. Perusahaan rintisan berusia sembilan tahun yang didukung oleh Uber ini memulai debutnya di Nasdaq dengan harga saham yang langsung melonjak sekitar 9 persen di jam pertama perdagangan.

IPO ini menempatkan valuasi Lime di angka sekitar US$ 1,66 miliar. Angka tersebut hanya sedikit di bawah valuasi yang diraih kompetitor sekaliber Bird saat merger dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC) pada 2021 silam.

Utang Jatuh Tempo dan Kebutuhan Pendanaan Mendesak

Keputusan untuk go public bukan tanpa alasan. Dalam dokumen IPO yang diajukan pada Mei lalu, Lime secara blak-blakan menyatakan "keraguan besar" atas kemampuannya untuk melanjutkan usaha (going concern). Perusahaan membutuhkan dana segar untuk menyelesaikan sekitar US$ 1 miliar dalam bentuk liabilitas, di mana lebih dari setengahnya jatuh tempo pada akhir tahun ini.

"Kami merasa harus membuktikan bahwa kami adalah bisnis yang mandiri, menguntungkan, dan menghasilkan arus kas bebas yang positif. Itu baru terjadi dalam tiga tahun terakhir," ujar CEO Lime, Wayne Ting, dalam wawancara dengan TechCrunch. "Saya pini waktunya tepat karena bisnis kami sudah kuat."

Industri Mikromobilitas yang Brutal

Langkah Lime menjadi perusahaan publik terjadi di tengah industri mikromobilitas yang dikenal keras. Bird, kompetitor utama, harus mengajukan perlindungan kebangkrutan dan melakukan restrukturisasi setelah go public. Sementara itu, pemain lain seperti Tier dan Dott memilih merger, Micromobility.com terdelisting dari bursa, dan Superpedestrian gulung tikar.

Di tengah kekacauan itu, Lime justru menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang solid. Perusahaan mencatat pendapatan US$ 521 juta pada 2023, naik menjadi US$ 686,6 juta pada 2024, dan melonjak ke US$ 886,7 juta tahun lalu. Meski masih mencatat kerugian, angkanya berhasil ditekan dari US$ 122,3 juta pada 2023 menjadi hanya US$ 33,9 juta pada 2024, meskipun kembali naik tipis ke US$ 59,3 juta pada 2025.

Ekspansi Global dan Ketergantungan pada Uber

Pertumbuhan Lime sebagian besar didorong oleh ekspansi global. Kini, perusahaan beroperasi di 230 kota di 29 negara. Namun, bisnis Lime masih cukup bergantung pada Uber, yang memiliki 24 persen saham dan menyumbang lebih dari 14 persen pendapatan tahun lalu. Uber memungkinkan pengguna memesan skuter Lime melalui aplikasinya di beberapa kota.

Wayne Ting menyebut kunci kesuksesan Lime ada pada kemampuannya menekan biaya per unit dan menggunakan perangkat lunak serta pembelajaran mesin untuk mengelola operasi di setiap kota. "Ini benar-benar permainan yang ketat. Kami terus mencari peningkatan 1-2 persen," ujarnya.

Dampak bagi Regulator Kota

Status sebagai perusahaan publik juga diyakini akan memudahkan Lime menjalin kemitraan dengan pemerintah kota. "Banyak kota tidak suka jika operator yang mereka datangkan bangkrut dalam 6-12 bulan. Mereka menginginkan kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan," jelas Ting. "Kini laporan keuangan kami tersedia bagi regulator kota mana pun yang ingin memilih mitra jangka panjang yang baik."

IPO ini menjadi titik balik bagi Lime setelah bertahun-tahun berada di ambang ketidakpastian. Dengan dana segar di tangan, perusahaan berharap bisa terus tumbuh dan membuktikan bahwa model bisnis skuter listrik bisa berkelanjutan secara finansial.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks