SULAWESI TENGGARA — Keputusan ini mengejutkan mengingat Chevrolet adalah merek EV terlaris kedua di AS setelah Tesla, sementara Cadillac sudah mulai membangun pangsa pasar di segmen mobil listrik mewah. Namun, beban biaya terkait EV yang mencapai USD 10,9 miliar sejak paruh kedua 2025 menjadi alasan utama perubahan haluan ini. Dari jumlah tersebut, USD 7,2 miliar berdampak langsung pada kas perusahaan.
Cadillac dan Chevy Balik Arah: Model Bensin Baru Segera Meluncur
Mary Barra mengonfirmasi bahwa generasi terbaru Cadillac bermesin bensin akan mulai hadir musim semi tahun depan. Model yang diperbarui meliputi sedan CT5, SUV XT5, dan XT6 tiga baris. Padahal, Cadillac sebelumnya berkomitmen hanya menjual kendaraan listrik pada 2030.
Nasib serupa menimpa Chevrolet. Produksi Chevrolet Bolt yang sempat menjadi ikon EV murah akan berakhir akhir tahun ini. Pabrik di Kansas akan beralih memproduksi crossover bensin sebagai penggantinya. Model-model listrik yang sudah ada seperti Equinox EV, Blazer EV, dan Silverado EV tetap dijual, tapi tanpa pembaruan signifikan dalam waktu dekat.
Blazer dan Equinox EV Baru Mungkin Hadir 2028 — Itu Pun Belum Pasti
Menurut laporan Automotive News, Chevy Blazer EV baru berpeluang mendapat pembaruan besar pada 2028, begitu pula Equinox EV. Namun, GM belum mengonfirmasi rencana ini. Pada 2028, persaingan EV global diprediksi jauh lebih ketat. Toyota bZ 2026 yang baru diperbarui sudah mengungguli penjualan Equinox EV di AS.
Hyundai dan Toyota Sudah Menyalip, GM Justru Mundur
Data paruh pertama 2026 menunjukkan Hyundai IONIQ 5 resmi menggeser Chevy Equinox EV sebagai EV terlaris ketiga di AS. Hyundai memproduksi IONIQ 5 dan IONIQ 9 di pabrik Georgia, sementara GM masih merakit Equinox EV di Meksiko. Lebih agresif lagi, Hyundai baru meresmikan pabrik baterai USD 5 miliar bersama SK On — kapasitasnya cukup untuk 300.000 unit EV per tahun.
Toyota juga tak tinggal diam. Model bZ yang diperbarui tahun ini mencatat permintaan lebih tinggi dari Equinox EV hingga Juni 2026. Belum lagi kehadiran Rivian R2, BMW iX3, dan Tesla Model Y L yang siap membanjiri pasar.
Komentar Pemilik: "Saya Tidak Akan Kembali ke Bensin"
Reaksi paling gamblang datang dari Dan B, pemilik Chevy Equinox EV 2026. Dalam kolom komentar, ia menulis, "Saya tidak akan kembali ke mesin bensin. Jika GM benar-benar menjalankan rencana ini, saya sebagai pelanggan setia akan pindah ke merek lain." Ia bahkan mempertimbangkan membeli sedan bensin bekas lalu mengonversinya jadi EV ketimbang membeli mobil bensin baru dari GM.
Kontradiksi di Internal GM: Data Bicara Lain
Yang menarik, Duncan Aldred, senior VP GM untuk Amerika Utara, justru mengakui pada Mei lalu bahwa data menunjukkan konsumen yang beralih ke EV cenderung tetap memilih EV untuk kendaraan berikutnya. Pernyataan ini kontras dengan keputusan korporasi yang justru menggenjot produksi mesin bensin. GM menaikkan proyeksi laba tahunan menjadi USD 14-16 miliar, naik dari sebelumnya USD 13,5-15,5 miliar — artinya mesin bensin masih jadi andalan profit.
Sementara GM mundur dari perlombaan EV, produsen China seperti BYD terus melesat dengan sedan listrik yang digadang-gadang lebih canggih. Pasar global pun mulai melirik alternatif dari China. GM mungkin masih aman di AS untuk saat ini, tapi dalam 3-4 tahun ke depan, celah yang ditinggalkan bisa dimanfaatkan kompetitor untuk mengambil alih panggung.